Dia mengatakan melalui mekanisme tersebut dilakukan proses seleksi. Pada akhirnya hanya kader yang kuat yang lanjut ke tahap pencalegan. Caleg dari kalangan aktivis pun punya kesempatan yang sama untuk masuk Senayan.
"Makanya waktu itu ada konsep 200 persen, 150 persen, menjelang DCS menjadi 100 persen. Jadi kita seleksi betul. Jadi fair jadi mau aktivis, orang yang gak punya duit sama orang yang banyak duit segala macam itu berproses. Dia lihat, dia udah tahu juga dari awal yang aktivis-aktivis ini. Ini nanti lawan gue yang ini. Berarti gue harus berjuang," katanya.
Dia mengatakan para aktivis tersebut pun memiliki kekuatan dan jaringan yang cukup kuat. Sehingga hal itu menjadi bagian strategi tersendiri bagi Golkar di Pemilu 2024.
"Aktivis ini kan kekuatannya jaringan sama intensitas untuk bertemu, komunikasi. Itu yang gak dipunyai orang banyak duit. Aktivis-aktivis itu bilang, wah gue harus lebih kenceng nih di daerah nih. Jadi membuat semua jadi fair. Pada saat penyusunan nomornya pun jadi enak, jadi kita udah tau, yaudah kita lapor ama ketua umum. Tum ini, profiling-nya ini, rekomendasi saya nomor sekian, ini, ini, ini," tutupnya. (detik.com)