Ia memulai kiprah di Himpunan dari bawah, level Komisariat, Cabang, Badko, hingga menembus PB HMI. Doli mengatakan HMI bukan sesuatu yang baru baginya. Sebab, keluarganya kental dengan gerakan mahasiswa yang identik dengan warna hijau dan hitam tersebut.
"Saya kenal HMI sejak kecil, bahkan mungkin jika tidak ada HMI tak ada saya dan adik-adik saya di dunia ini. Sebab Ayah dan Umi saya ketemunya juga di HMI. Dua-duanya aktivis di sana", lanjutnya.
Doli menjelaskan ayahnya, Zainuddin Tandjung, merupakan aktivis HMI di Sumatera Utara, yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Sumut dan anggota MPR RI. Sementara ibunya, Nurhafni Tambunan, seorang pensiunan dosen, yang dulu juga menjadi aktivis KOHATI-sayap perempuan di HMI. Latar belakang keluarganya yang kental dengan aktivisme dan intelektual, turut membentuk Doli seperti saat ini.
"Orang tua secara garis besar mengajarkan dua hal, berpegang pada agama dan ilmu pengetahuan. Dua hal itu menjadi modal bagi kami, anak-anaknya dalam menjalani hidup. Dan memang benar bahwa agama selalu menjadi pagar kita dalam setiap cobaan. Sementara ilmu pengetahuan sebagai bekal meningkatkan taraf hidup," paparnya.
Tak hanya di HMI, nama Doli Kurnia juga dikenal di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), di mana saat ia menjadi Ketua Umum KNPI 2008-2011, terjadi konflik internal. Namun, Doli melihat hal tersebut sebagai dinamika organisasi.
Selama di KNPI, ia menginisiasi banyak program, tak hanya berskala nasional, melainkan juga internasional. Komitmen itulah yang membawanya dipercaya sebagai pimpinan dua organisasi pemuda internasional di atas. (newsdetik.com)