Kabargolkar.com - Siang kemarin, Rabu, 11 Desember 2024, ketika Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia berpidato membuka upgrading seluruh anggota DPRD Fraksi Golkar, mengurai sejumlah capaian Partai Golkar di Tahun Politik 2024.
Lalu Ketua Umum melanjutkan materi sebagai Menteri ESDM tentang Swasembada Energi yang dimulai dengan kalimat yang menghentak soal target meningkatkan lifting produksi minyak dan gas Indonesia.
Betapa ini menjadi pidato pertama dari beberapa Menteri ESDM sebelumnya yang secara tegas membahas rencana untuk menaikan Lifting Minyak.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, pada tahun 1997 lifting kita mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Pada saat ini 2024 justru impor minyak Indonesia sudah menjadi 1 juta barel. Ini menunjukkan, lifting produksi minyak terus menurun sejak 1997 dan pada saat yang bersamaan Impor minyak terus meningkat.
Menjadi pertanyaan, mengapa sejak lifting minyak menurun sampai saat ini para Menteri ESDM sebelumnya tidak terlalu lantang membahas target meningkatkan lifting minyak tersebut? Apakah karena para Menteri sebelumnya yang umumnya dari kalangan profesional sehingga paham tentang kesulitan teknis dan non teknis dalam meningkatkan lifting produksi minyak?
Pada konteks inilah saya ingin mengemukakan bahwa pidato politik Pak Bahlil dimulai ketika mulai berbicara sebagai Menteri ESDM. Saya melihat upaya meningkatkan produksi lifting minyak sebagai Manifesto Politik dalam menuju Kedaulatan Energi Indonesia.
Pak Bahlil tentu sebelum pidato sudah mendapatkan masukan dan informasi dari para stafnya, bila tekad makin bulat di tengah kesulitan dan tantangan maka itu lebih digerakan oleh cita-cita politik untuk kemajuan Indonesia.
Sepertinya Pak Bahlil terinspirasi dari Sutan Syahrir, “apapun yang membuatmu takut, hadapilah dengan berani”. Bila umumnya Menteri ESDM sebelumnya ‘agak takut’ tentang menurunya lifting produksi minyak maka Bang Ketua Umum justru menghadapi dengan gagah berani, akan meningkatkanya. Mari kita sama mendukung Pak Menteri Bahlil untuk meningkatkan lifting produksi minyak nasional. (herald.id)