Kabar Golkar

Totalitas Pada Bangsa, In Memoriam Prof. Suhardiman, SE

Oleh Kabar Golkar · · Kabar Nasional

Totalitas Pada Bangsa, In Memoriam Prof. Suhardiman, SE
Totalitas Pada Bangsa, In Memoriam Prof. Suhardiman, SE
Komitmen dan keyakinannya pada Pancasila sebagai satu-satunya dasar dan pegangan yang paling tepat bagi NKRI tertoreh kuat dalam jejak perjalanan hidupnya.  Sikapnya jelas dan tegas dalam menghadapi kelompok separatisme dan juga kelompok ekstrim kiri maupun kanan yang hendak mengganti Pancasila. Sebagai seorang kadet muda militer, almarhum terlibat langsung dalam menumpas PRRI/Permesta.  Demikian pula dalam menghadapi PKI yang membentuk SOBSI menjadi alasan kuat Suhardiman untuk memdirikan organisasi tandingan bernama SOKSI yang kemudian bersama MKGR dan Kosgoro membentuk Sekber Golkar yang kemudian. menjadi Partai Golkar. Melalui wadah ini pula Suhardiman melindungi mahasiswa yang berhimpun dalam HMI dari ancaman PKI, sehingga di pertengahan tahun 60’an, sebagaimana dikatakan oleh Akbar Tanjung dan juga Yahya Muhaimin, aktifis HMI juga bergabung dalam Pelmasi-SOKSI, Persatuan Mahasiswa Swadiri bentukan SOKSI.

Dalam rangka mempercepat pembangunan berdasarkan Pancasila, Pemerintah bersama DPR kemudian membentuk komisi dan mempercayakan Suhardiman sebagai pemimpinnya.  Salah satu tujuan utama komisi ini agar organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan committed menempatkan Pancasila sebagi satu-satunya azas.  Setelah berkerja marathon selama berbulan-bulan, memberikan penjelasan, melakukan lobby dan mencari titik dengan berbagai kelompok masyarakat, utamanya kelompok keagamaan, seperti NU, Muhamadiyah  dan organisasi kemasyarakatan lainnya, komisi ini berhasil menelurkan lima undang-undang di bidang politik. Atas jasanya,  Suhardiman di’parkir’ sebagai anggota DPA.

Tersenyum getir, Suhardiman menerima penghargaan itu, namun tetap berlapang dada dan tidak berhenti menyerah. Rupanya sikap pantang menyerah dan ketekunannya dalam membina kader telah menempatkan sosok Suhardiman dalam posisi tersendiri. Meski tidak menempati posisi strategis dalam pemerintahan, almarhum tetap menjadi rujukan dan didatangi para menteri dan berbagai kalangan masyarakat. Beliau adalah pemimpin yang tidak bergantung pada jabatan atau mahkota yang disandangnya, kata almarhum Mensesneg Moerdiono, sebagaimana dikatakan oleh Oetojo Oesman, SH.