Totalitas Pada Bangsa, In Memoriam Prof. Suhardiman, SE
Oleh Kabar Golkar · · Kabar Nasional
Awal hingga pertengahan dekade 90’an merupakan periode sibuk almarhum. Prediksi dan terawangannya terhadap persoalan masyarakat kerap menghiasi berbagai media. Analisa dan pandangannya yang juga didasarkan pada intuisi politik dan bernuansa ‘metafisik’ menarik bagi berbagai kalangan, masyarakat pers kemudian menobatkannya sebagai ‘dukun politik’. Paparan dan analisa Suhardiman yang gelisah menyaksikan berbagai penyimpangan yang terjadi, kerap membuat panas kuping pendengarnya. Untuk itu, Yahya Muhaimin, dalam pengantarnya pada buku “Pembangunan Politik Satu Abad” mengatakan bahwa pemikiran Suhardiman bukan hanya tajam, namun juga kerapkali lugas, tegas dan menunjukkan optimisme.
Sebagai salah seorang tokoh pendiri Orde baru, Suhardiman tidak mampu berpangku tangan menyaksikan berbagai penyimpangan yang terjadi. Pola kepemimpinan yang tetap bahkan semakin top-down dengan security approach sudah selayaknya dikurangi ke arah yang lebih demokratis, partisipatif dalam kerangka trickle-down yang lebih nyata dan terasa, katanya. Pemerintahan Orde baru harus tanggap, sebab cepat atau lambat, mahkamah pengadilan sejarah akan berbicara, katanya dalam berbagai kesempatan. Prediksi dan forecastingSuhardiman memang kemudian menjadi kenyataan ketika gelombang tak terbentung kalangan mahasiswa dan masyarakat yang tidak puas akhirnya menuntut Suharto untuk turun paksa dari singgasananya.Suhardiman berpandangan bahwa kelahiran suatu orde bukanlah suatu antagonis sepenuhnya dari orde sebelumnya. Oleh karena itu, orde yang baru harus mampu menghargai dan memanfaatkan segenap potensi dan capaian dari orde sebelumnya. Menghadapi upaya pelemahan Golkar, ABRI dan ideologi bangsa almarhum tetap teguh konsisten meski kerap juga merasa sendiri. Pada kasus Golkar, almarhum tegas bersuara bahwa Partai Golkar dengan segala kelemahannya tidak boleh ditinggalkan apalagi dibubarkan. Di tengah marak lahirnya partai-partai baru yang dibidani kader-kader Golkar,
Suhardiman konsisten mengajak kader-kader Golkar untuk terjun bekerja memperbaiki ‘kebocoran’ atau kerusakan ‘rumah’ Golkar. Menghadapi fenomena ‘pelemahan’ TNI (kala itu bernama ABRI) sehingga menyebabkan TNI merasa gamang dalam menjalankan fungsi dan perannya, Suhardiman tegas menyuarakan agar hati-hati dalam memposisikan TNI. Hubungan bangsa dengan TNI itu ibarat wayang dengan gapitnya. Tanpa gapit wayang akan loyo, lemah bahkan akan sulit berdiri, katanya.