Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri
menegaskan terkait pentingnya menjadikan perdagangan sebagai instrumen yang berpihak pada pertumbuhan ekonomi sekaligus rakyat dan lingkungan.
"Di tengah tantangan global saat ini, perdagangan harus menjadi bagian dari solusi. Bukan hanya untuk mendorong ekonomi, tetapi juga untuk melindungi lingkungan, menjamin hak-hak dasar rakyat seperti udara bersih dan air bersih, serta menekankan keberlanjutan yang memenuhi standar dan permintaan pasar global," kata Roro dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/6/25).
Pernyataan ini disampaikan Wamendag Roro saat memberikan sambutan pembuka dalam agenda bertajuk "Peluncuran Laporan Perdagangan dan Investasi Berkelanjutan Indonesia 2025: Mencapai Resiliensi dan Keberlanjutan di Tengah Ketidakpastian".
Adapun acara tersebut diselenggarakan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (Centre for Strategic and International Studies/CSIS) Indonesia bersama Decarbonization for Development Lab (DfD Lab) dan Kementerian Perdagangan di Auditorium CSIS, Pakarti Center Building, Jakarta, Jumat (20/6).
Roro menambahkan bahwa laporan yang diluncurkan hari ini menjadi contoh dari pentingnya kebijakan berbasis data dan bukti (evidence-based policy), terutama di tengah dinamika global.
Menurutnya, laporan tersebut menjadi cerminan atas pergeseran yang terjadi di dalam ekosistem perdagangan dan investasi. Hal ini juga menjadi cerminan bagaimana Indonesia meresponsnya dengan menjadikan prinsip keberlanjutan sebagai pijakan utama dalam pembangunan.
Ia juga menekankan pentingnya transisi energi dan perdagangan rendah karbon seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk hijau. Menurutnya, pergeseran menuju energi bersih bukan hanya menjadi sebuah opsi, melainkan sudah menjadi sebuah keharusan.
"Transisi energi merupakan bagian penting dari upaya Indonesia menuju ekonomi hijau sekaligus langkah strategis untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis energi. Indonesia bertekad menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) secara signifikan melalui serangkaian kebijakan dan aksi nyata sebagai bagian dari komitmen global dalam Perjanjian Paris," tegasnya.
Lebih lanjut, politisi muda Partai Golkar ini juga menjelaskan sejumlah strategi yang dijalankan Indonesia menuju emisi nol bersih (Net Zero Emissions/NZE). Beberapa di antaranya, elektrifikasi dan efisiensi energi, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, perluasan pemanfaatan energi terbarukan, serta pengembangan teknologi pemanfaatan dan penyimpanan karbon.
Menurut Roro, berbagai langkah tersebut sangat erat kaitannya dengan kebijakan perdagangan. Pasalnya, saat ini setiap negara diharapkan mampu mengedepankan sistem perdagangan yang lebih hijau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika global.
Berdasarkan penilaian Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) terhadap 120 negara terkait kesiapan untuk transisi energi pada 2024, indeks transisi energi Indonesia berada pada peringkat 54 dunia. Capaian ini juga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan indeks transisi energi tertinggi ketiga di ASEAN setelah Vietnam dan Malaysia.
Pada kesempatan yang sama, Roro menyoroti sejumlah tantangan global yang sedang dihadapi dunia, seperti konflik geopolitik yang berdampak terhadap rantai pasok global dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Ia juga menyoroti menguatnya proteksionisme berbasis isu keamanan lingkungan yang semakin membatasi akses pasar, terutama bagi negara- negara berkembang