ilustrasi
Akbar Tandjung (foto: VIVA/Muhamad Solihin)[/caption]
"Iya, alasannya apa, ya? Kalau mau debat, ya bebaskan sajalah mereka berdebat satu sama lain, masa debatnya itu diarahkan," demikian ujar Akbar Tandjung.
Menurut Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar ini, terdapat perbedaan mencolok antara debat di Pilpres 2014 dengan Pilpres 2019. Saat 2014, tidak ada bocoran atau pun kisi-kisi pertanyaan dari KPU yang diberikan kepada pasangan calon yang berlaga kala itu. "Di tahun di pemilu periode lalu (Pilpres 2014), kampanye periode lalu kok sepertinya nggak ada ya, kok sekarang ada," tegasnya. Ada hal lebih penting yang seharusnya menjadi perhatian KPU. Menurut Akbar Tandjung, tema debat harus jadi perhatian, bukan pemberian kisi-kisi. "Yang penting tema-temanya, yang penting tema debat bertema soal hukum itu, terus hak asasi manusia, dan saya pikir itu baik itu isu-isu yang menjadi perhatian kita juga. Isu ekonomi, politik, isu-isu luar negeri itu kan semua isu yang menjadi perhatian masyarakat, publik," demikian ungkap Akbar Tandjung."Kalau mau debat, ya bebaskan sajalah mereka berdebat satu sama lain, masa debatnya itu diarahkan"
Jusuf Kalla (foto: VIVA/Muhamad Solihin)[/caption]
Karena sudah ada bocoran kisi-kisi, menurut Kalla, jawaban yang muncul saat debat adalah yang sudah dirapatkan oleh tim, bukan spontanitas dari peserta debat.
"Nah kalau itu dibuka duluan, berarti yang menjawabnya tim. Padahal yang mau diuji adalah yang bersangkutan (capres-cawapres). demikian sebagaimana dikutip dari kompas.com, saat JK ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (8/1/2019)