Indonesia Tidak Perlu Meniru Rusia Secara Utuh
Ngabalin menegaskan Indonesia tidak perlu menyalin seluruh kebijakan Rusia. Namun, ia menilai Indonesia dapat mengambil pelajaran mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai dasar bangsa.
Menurut dia, Indonesia memiliki fondasi sendiri yang bersumber dari Pancasila, konstitusi, agama, adat istiadat, serta ketentuan hukum nasional, termasuk Undang-Undang Perkawinan yang memandang perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita.
Dengan karakter tersebut, Indonesia dinilai memiliki jalan sendiri dalam menjaga ketahanan keluarga dan moral publik tanpa harus mengikuti model negara lain.
“Pelajaran yang bisa diambil adalah keberanian membaca arus nilai global secara kritis. Tidak semua agenda yang datang dengan narasi hak atau kebebasan selalu sejalan dengan kepribadian bangsa,” katanya.
Menghormati Martabat Manusia Tanpa Kehilangan Jati Diri Bangsa
Di sisi lain, Ngabalin menegaskan penghormatan terhadap martabat setiap manusia tetap harus dijaga.
“Menghindari kekerasan terhadap siapa pun adalah prinsip yang harus dipertahankan. Namun menghormati manusia tidak selalu berarti menerima setiap gerakan ideologis yang berkembang di tingkat global,” jelasnya.
Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap hak setiap warga negara dengan perlindungan terhadap nilai-nilai dasar yang hidup dalam masyarakat.
Keberanian Menjaga Nilai Bangsa
Pada bagian akhir, Ngabalin menekankan bahwa Indonesia perlu tetap percaya diri dalam mempertahankan jati dirinya di tengah derasnya arus globalisasi.
Ia menilai pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan karakter, keluarga, dan moral publik.
“Indonesia tidak harus menjadi Rusia. Indonesia harus menjadi Indonesia yang sadar terhadap sejarah, percaya diri dengan jati dirinya, serta berani menjaga fondasi moral bangsanya,” tutup Ngabalin.