[caption id="attachment_21007" align="aligncenter" width="700"]
sampah
plastik (foto: gonkunming.com)[/caption]
kabargolkar.com - Lingkungan hidup menjadi masalah global yang semakin mendapatkan perhatian serius. Di masa kampanye ini, tema lingkungan hidup termasuk hal yang diangkat dalam debat Capres kedua. Sementara, untuk partai politik, Golkar dapat disebut sebagai parpol yang memperhatikan masalah lingkungan hidup ini.
Salah satu isu besar lingkungan hidup yang sedang mendapatkan perhatian adalah sampah plastik. Berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia adalah penyumbang pencemaran sampah plastik nomor dua terbesar di dunia. China menjadi negara pencemar sampah plastik nomor satu di dunia. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia menghasilkan 3,2 juta ton sampah plastik tiap tahunnya, dan 87 persen dari besaran itu dibuang ke laut.
Di Bali dan Ambon, kondisi ini sudah sangat memprihatinkan. Pemandangan sampah plastik menumpuk di pantai-pantai Bali sudah sering masuk pemberitaan media. Bahkan di Teluk Ambon, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan 70 persen sampah disana didominasi sampah plastik.
Partai Golkar memiliki strategi terobosan untuk menggugah kesadaran masyarakat agar semakin meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kesadaran ini akan didorong dari wilayah pedesaan.
Politisi Golkar dan Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) berharap masyarakat pedesaan mampu memanfaatkan secara maksimal Dana Insentif Desa (DID) untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Tahun 2019 ini, alokasi dana DID adalah sebesar Rp 10 triliun. Dana tersebut merupakan bagian dari Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) 2019 yang totalnya di APBN 2019 mencapai Rp 826,77 triliun.
Baca: Kurangi Sampah Plastik, Bamsoet Dorong Masyarakat Maksimalkan DID
Bank sampah
Dana Insentif Daerah akan turut dimanfaatkan untuk membangun bank sampah, baik di sekolah atau di pedesaan. Bank sampah adalah suatu sistem pengelolaan sampah secara kolektif yang mendorong peran serta aktif masyarakat. sistem ini menampung, memilah dan menyalurkan sampah bernilai ekonomi. Dengan cara ini, masyarakat mendapat keuntungan ekonomi dari menabung sampah.
Dalam sistem bank sampah ini, masyarakat memisahkan sendiri sampah yang mereka produksi dari rumah mereka. Sampah-sampah tersebut akan dipilah dan dipilih berdasarkan materialnya.
Ada 2 klasifikasi, yaitu sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk lewat proses daur ulang dan terdegradasi secara alami menjadi pupuk kompos. Sementara sampah non-organik terbagi menjadi 4 jenis, yaitu sampah kaca, sampah metal, sampah kertas dan sampah plastik.
Menjual sampah yang terkumpul
Setelah terkumpul, bank sampah menjual sampah-sampah tersebut. Pupuk kompos dapat dijual atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara, sampah kaca, sampah metal, sampah kertas dan sampah plastik dapat di jual ke pengepul ataupun industri terkait untuk digunakan sebagai bahan baku.
Membangun sentra kreatif pengelolaan sampah
Bank sampah juga dapat mendorong lahirnya sentra ekonomi kreatif. Memanfaatkan sampah non organik yang terkumpul sebagai bahan baku. Bahan-bahan ini kemudian diolah secara kreatif untuk menciptakan produk baru yang memiliki nilai ekonomi di masyarakat.
Sentra-sentra ekonomi kreatif yang berkembang akan dapat banyak menyedot tenaga kerja di pedesaan. Dengan demikian masyarakat diberdayakaan dengan hal-hal produktif