Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Djuhartono: Pemuja Sukarno Pemimpin Sekber Golkar hingga akhir 1965
  Kabar Golkar   21 Juli 2019
[caption id="attachment_25694" align="aligncenter" width="720"]
Arsip ANRI [/caption] Kabargolkar.com -  Angkatan 66 adalah angkatan yang lahir lalu bertarung dengan dibekingi oleh tentara. Tak hanya golongan mahasiswanya, tapi juga sebuah golongan yang kemudian dikenal sebagai Golongan Karya (Golkar). Ketua Umum pertama Golkar adalah Brigadir Jenderal Djuhartono, sebelum akhirnya digantikan jenderal lain bernama Brigadir Jenderal Soeprapto Soekowati. Djuhartono jadi Ketua Umum Golkar sejak 1964 hingga Desember 1965. Sebagai militer, baik Djuhartono maupun Soekowati telah lama dekat dengan politikus dan aktivis sipil. “S. Soekowati, Let. Kol. Djuhartono dan Mayor Harsono dan kawan- kawan membentuk macam-macam Badan Kerjasama (BKS) golongan-golongan Karya dan Militer seperti BKS Buruh Militer, BKS Seniman Militer, BKS Pemuda Militer dan lain- lain,” tulis Junus Jahja dalam Catatan seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (1989: 44). Sebelum Golkar berdiri, Djuhartono adalah orang penting di Front Nasional, di mana dia menjadi Wakil Sekretaris Jenderal. “Sebenarnya badan ini (Front Nasional) semula bagi kepentingan perjuangan pembebasan Irian Barat, Ketika Angkatan Darat membentuk Front Nasional Pembebasan Irian barat. Saya diangkat sebagai salah seorang dari tiga sekretaris. Ketika itu pangkat saya kolonel, dirasakan adalah penting ada wakil AD di situ untuk memimpin proses,” aku Djuhartono seperti dikutip Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI (2010: 176). Setelah Irian Barat dianggap selesai, ada tuntutan dari partai-partai untuk membubarkan Front Nasional, karena ada AD ada di sana. Golkar yang Sukarnois Sepengakuan Djuhartono, seperti dicatat Saskia Wieringa, Presiden Sukarno pernah bilang padanya, “Djuhartono, dengan bantuanmu kita dapat menampung PKI.” Djuhartono, seperti hampir semua perwira tinggi AD, sebenarnya tidak percaya PKI. Front Nasional pun tidak bubar. Pada 20 Oktober 1964, seperti dicatat David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 258), dalam rapat gabungan dewan pimpinan pusat Front Nasional dan 61 golongan karya, para peserta sepakat untuk membentuk Sekretariat Bersama (Sekber). Inilah yang menjadi cikal-bakal Golongan Karya. Sepenuturan Djuhartono, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), di masa Sekber berdiri, juga ingin bergabung. “Tetapi kami tidak mengundangnya. Kami tidak dapat begitu saja menolaknya, tetapi soalnya mereka organisasi yang telah bergabung dengan suatu partai,” kata Djuhartono. Akhirnya Sekber Golkar kemudian menjadi musuh Gerwani. Djuhartono mengaku, “kami mengontrol massa mengambang perempuan yang juga ingin mereka (Gerwani) pengaruhi.” Sekber Golkar menjadi organisasi besar yang mengontrol 40 juta rakyat dan menurut Djuhartono cukup dominan. Menurut David Reeve (hlm. 260), Djuhartono dan Imam Pratignjo (pimpinan Front Nasional) sepertinya tokoh yang tidak memihak, pemberes masalah, klien dengan beberapa patron, dan terkait dengan Subandrio (Menteri Luar Negeri dan pimpinan Badan Pusat Intelejen). Di bawah orang macam Djuhartono, Pratignjo, dan Junius Kurami Tumakaka (tokoh Kristen), Sekber adalah Sukarnois. Setelah Desember 1965 dan tak lagi dipimpin Djuhartono, Sekber tidak berpihak ke Sukarno lagi, bahkan cenderung kepada Soeharto. Pada zaman Orde Baru Sekber Golkar hanya disebut Golkar dan mendukung Soeharto dalam Pemilu
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.