Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Djuhartono: Pemuja Sukarno Pemimpin Sekber Golkar hingga akhir 1965
  Kabar Golkar   21 Juli 2019
kembali ke Angkatan Darat. Menurut catatan Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988: 104), Djuhartono sejak Mei 1968 adalah anggota Kelompok Politik Team Politik, Ekonomi, Sosial (Poleksos) dari orang nomor satu di Angkatan Darat. Kala itu Kasad dijabat oleh Jenderal Maraden Panggabean. Pangkat Djuhartono adalah brigadir jenderal. Dari PRRI ke BKS Pada 1965, usia Djuhartono sekitar 40. Harsya Bachtiar mencatat dia lahir tahun 1925. Karier militernya di zaman Jepang adalah komandan peleton Tentara Sukarela Pembela tanah Air (PETA) di Yogyakarta. Setelah Indonesia merdeka, seperti kebanyakan tentara PETA, dia ikut TNI. NRP-nya 13108. Djuhartono bertugas di Sumatra pada 1950-an. Di paruh kedua 1950-an Djuhartono, yang pemuja Sukarno, berada di teritori dari TT II (Kodam II) Sriwijaya, Sumatra Selatan. Dalam pergolakan PRRI di Sumatra Selatan, Djuhartono tampil sebagai pendukung pemerintah pusat. Setelah Letnan Kolonel Barlian—Panglima Tentara & Teritorium II Sriwijaya, yang berpusat di Palembang—mengambil alih kekuasaan, Mayor Djuhartono yang tidak setuju pun menentangnya. Kala itu Djuhartono adalah pejabat komandan Resimen 5. Dia sempat melarikan diri ke pelabuhan udara Talang Betutu, di pinggiran kota Palembang. Laporan clash antara Djuhartono dengan Barlian membuat KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution harus turun tangan. “Untuk menghindari pertempuran saya diminta segera ke Palembang […] kami mendarat dalam curah hujan yang keras, yang datang menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu bersama pejabat komandan Resimen 5 (Djuhartono),” kata Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba (1984: 83). Djuhartono kemudian ditarik ke Jakarta. Letnan Kolonel Barlian, juga para perwira menengah yang terlibat PRRI, kemudian aman tanpa Djuhartono di Sumatra Selatan Dia kemudian tak ditempatkan sebagai perwira tempur dengan membawahi pasukan tempur. Djuhartono menjadi perwira yang berhubungan dengan orang-orang sipil dengan aktif di BKS-BKS dan akhirnya di Front Nasional lalu Sekber Golkar. Setelah di Sekber Golkar, Djuhartono sempat ditarik lagi ke jajaran staf petinggi Kasad ketika Soeharto mulai berjaya. Harsya Bachtiar mencatat setelah tak di Angkatan Darat lagi Djuhartono pernah menjadi Presiden Direktur PT AOA Zamrud Aviation Corporation dan Ketua Indonesia Association Carrier (INACA). Djuhartono tutup usia di Jakarta pada 10 Mei 1987 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di zaman Orde Baru dia hanya dikenal sebagai pendiri Golkar. Di luar itu, namanya jarang disebut. (Tirto)  
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.