Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Sekjend Golkar Nilai Tingginya Biaya Politik Jadi Pemicu Kasus OTT Kepala Daerah
  Muzaki   01 Agustus 2026
Sekjend DPP Partai Golkar, M. Sarmuji

Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Golkar yang juga sekaligus Ketua
Fraksi Partai Golkar DPR RI, M. Sarmuji menanggapi usulan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang mendorong partai politik memperkuat pendidikan dan pelatihan bagi kader sebelum diusung sebagai calon kepala daerah. Menurut Sarmuji, langkah tersebut penting, namun belum menyentuh persoalan utama yang menjadi penyebab berulangnya kasus operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah.

Ia menilai akar persoalan terletak pada tingginya biaya politik dalam sistem pemilihan kepala daerah yang berlaku saat ini. Karena itu, pembenahan tidak cukup hanya melalui pembinaan kader, tetapi juga perlu menyasar sistem yang melahirkan biaya politik tinggi.

"Problem ini bisa selesai kalau kita mau jujur pada diri sendiri. Sebenarnya hampir semua mengakui bahwa akar persoalan pada biaya politik yang mahal dengan sistem pemilukada sekarang," kata Sarmuji kepada wartawan, Jumat (31/7/26).

Menurutnya, berbagai kasus korupsi yang menjerat kepala daerah menunjukkan bahwa persoalan mendasar belum ditangani secara komprehensif. Selama akar masalah tersebut belum diselesaikan, praktik korupsi yang berujung pada OTT berpotensi terus berulang.

“Tapi begitu bicara solusi, sebagian dari kita tidak menengok lagi akar persoalannya. Ibarat memberikan obat tapi tidak mengacu pada diagnosis yang benar dan diyakini. Kalau kita tidak jujur pada apa yang kita rasakan, sampai kapan pun persoalan akan terus berulang," ujar Sarmuji.

Ia menjelaskan bahwa Partai Golkar selama ini secara konsisten memberikan pembinaan kepada kepala daerah yang diusung, mulai dari imbauan, pengarahan, hingga instruksi agar menjauhi praktik korupsi. Namun, menurutnya, langkah tersebut belum cukup apabila persoalan mendasar dalam sistem politik tidak dibenahi.

"Berkali-kali imbauan, briefing, instruksi sudah dilakukan oleh masing-masing partai. Tapi apakah selesai dengan itu? Saya rasa tidak, jika akar persoalannya tidak disentuh," kata Sarmuji.

Karena itu, ia berpandangan bahwa pembahasan revisi Undang-Undang Pilkada perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pemilihan kepala daerah, termasuk aspek yang berkaitan dengan tingginya biaya politik.

"Sangat perlu diatur dalam pembahasan RUU Pilkada," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengusulkan agar partai politik memperkuat sistem kaderisasi melalui sekolah partai sebelum mengusung calon kepala daerah. Menurutnya, peningkatan kapasitas calon pemimpin daerah menjadi salah satu langkah penting dalam memperbaiki kualitas tata kelola pemerintahan.

"Wah, ini mancing-mancing ini. Itu kita serahkan kepada pembuat undang-undang ya, apakah mau mau melalui DPRD, nggak dilarang loh oleh konstitusi. Tinggal mengubah Undang-Undang Pilkada saja. Konstitusi kita hanya mengatakan dipilih secara demokratis. Demokratis bisa langsung, bisa perwakilan," kata Tito di DPR.

Ia menambahkan bahwa penguatan sekolah partai layak menjadi perhatian dalam proses kaderisasi politik.

"Tapi serahkan kepada (pembuat UU) yang mungkin perlu dipertimbangkan pendapat saya, ini partai-partai yang betul-betul sekolah partainya diperkuat," lanjutnya.

Selain itu, Tito mengusulkan agar setiap calon kepala daerah memperoleh pelatihan mengenai penyelenggaraan pemerintahan, tata kelola birokrasi, hingga pengelolaan keuangan daerah sebelum mengikuti kontestasi Pilkada

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.