Â
[caption id="attachment_27796" align="aligncenter" width="660"]

Satya Hangga Yudha (kanan) sebagai moderator pada acara diskusi GEMA Golkar di Bandung, Jumat (30/8)[/caption]
kabargolkar.com - Usia Satya Hangga Yudha B.A. (Hons), MSc, atau biasa dipanggil Hangga, masih seperempat abad. Walau masih muda, ia tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Hangga saat ini aktif di Gerakan Milenial Airlangga Hartarto Golkar (GEMA Golkar). GEMA Golkar diketuai oleh Dico M Ganinduto.
Hangga adalah anak anggota DPR Satya Widya Yudha dan adik anggota DPR terpilih Dyah Roro Esti. Di luar Golkar ia sibuk memikirkan dan mengkaji energi serta dampaknya terhadap lingkungan lewat organisasi yang didirikannya, Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I).
Gelar akademik Hangga yang cukup panjang di atas diraihnya dari Michigan State University (S1) dan New York University (S2). Khusus untuk gelar S2, ia meraihnya dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.
Gara-gara beasiswa itu, salah satunya yang mendorong Hangga mendirikan IE2I. Organisasi ini menjadi salah satu cara mereka berkiprah dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.
Hangga yang pernah tinggal di 5 negara dan pernah mengunjungi lebih dari 30 negara mengaku semakin mencintai Indonesia. Negeri yang berpenduduk lebih dari 260 juta ini, menurut Hangga memiliki keunikan yang tidak dimiliki negara lain.
"Kita itu negara besar termasuk wilayah dan jumlah penduduknya. Warganya mayoritas muslim dan moderat. Sangat
open minded juga pertumbuhan ekonominya di atas 5 persen," ujar pria kelahiran 10 Agustus 1994 ini.
Pepatah lama apel jatuh tak jauh dari pohonnya berlaku juga bagi Hangga. Sang ayah, Satya Widya Yudha dikenal sebagai politisi yang berkonsentrasi di bidang energi. Sehingga tidak aneh bila Hangga yang sejak SMA di Jakarta International School (JIS) sudah tertarik dan membaca buku tentang energi dan lingkungan termasuk energi terbarukan.

Alasan Hangga mendalami bidang energi dan lingkungan hidup tidaklah sederhana. Menurutnya, kedua bidang ilmu tersebut berjalan beriringan.
“Kita tidak bisa fokus pada lingkungan hidup saja, tanpa mempelajari energi,” jelasnya.
Hangga menuturkan, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dalam memproduksi energi listrik.
“(Sebanyak) 87 persen penghasilan listrik Indonesia dihasilkan dari bahan bakar fosil, yaitu batu bara, minyak, dan gas,” katanya.
Selain itu, Hangga juga menyampaikan pentingnya beralih ke transportasi yang digerakkan oleh energi listrik. Hal ini berguna untuk menggantikan alat transportasi yang selama inimasih menggunakan bahan bakar fosil.