kabargolkar.com, BALIKPAPAN - Dalam Seminar Rakornas II KAHMI yang diselenggarakan di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Ridwan Hisjam menekankan bahwa dewasa ini energi mengalami pergeseran nilai. Dimana energi seharusnya menjadi modal untuk pembangunan, namun kini energi justru menjadi komoditas, pergeseran nilai energi kini difungsikan sebagai ekonomi.
“Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, energi adalah sumber dari segala kehidupan, energi merupakan modal dasar untuk pembangunan nasional serta berperan besar mendorong bergeraknya pembangunan bangsa ini,” tuturnya.
Wakil ketua Komisi VII DPR RI tersebut berharap besar bahwa jika pemerintah dapat mengedepankan kedaulatan dan kemandirian energi. Menurutnya, Pemerintah harus lebih fokus untuk mendorong energi terbarukan melalui kebijakan afirmatif.
Karena menurut catatan, sejak 2010 muncul ketimpangan antara pasokan dan permintaan energi. Produksi minyak bumi terus mengalami penurunan, namun disisi lain permintaan yang dalam hal ini konsumsi BBM terus merangkak naik.
“Gap antara supply and demand produksi minyak negara kita menurun terus menerus, namun konsumsi BBM-nya naik terus. Akhirnya kita menjadi ketergantungan terhadap impor, baik BBM maupun minyak mentah,” paparnya.
Cadangan batubara Indonesia masih melimpah, namun diprediksikan dalam jangka 50 tahun kedepan batubara indonesia akan habis karena eksploitasi besar-besaran yang dilakukan saat ini.
Menurut Ridwan Hisjam, sudah saatnya Pemerintah beralih menuju energi terbarukan seperti air, angin, surya, dan panas bumi. Hal tersebut perlu dilakukan, karena menurutnya penggunaan energi terbarukan lebih menjamin kepada sustainability dan keamanan bagi lingkungan.
“Karena hingga kini dominasi minyak bumi, batubara dan gas alam masih sangat besar untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional. Hari ini minyak bumi berkontribusi besar yang menyumbang konsumsi 46%, batubara 21%, gas alam 18%. Penggunaan energi terbarukan sendiri masih sangat kecil, yakni berada di angka 12%. Pungkas pria yang akrab dipanggil RH tersebut. (aym)