[caption id="attachment_28149" align="aligncenter" width="700"]
Airlangga Hartarto. (Foto: Humas Kemenperin)[/caption]
kabargolkar.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menegaskan optimismenya bahwa implementasi kebijakan hilirisasi industri akan menjaga kekuatan perekonomian nasional agar tidak mudah terombang-ambing di tengah fluktuasi harga komoditas.
Oleh karena itu, industri pengolahan berperan penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia untuk dibuat sebagai barang setengah jadi hingga produk jadi.
“Dengan fokus hilirisasi industri, tentunya akan bisa melakukan lompatan kemajuan lagi bagi ekonomi kita. Maka itu, perlu dipacu pertumbuhan dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri,” kata Menperin.
Menperin menyatakan, dengan modal inovasi, sumber daya manusia yang kompeten, dan penguasaan teknologi, Indonesia akan mampu menggenjot nilai tambah komoditas SDA lebih tinggi lagi.
Airlangga menyebutkan, hilirisasi industri telah berjalan di berbagai sektor, antara lain pertambangan dan perkebunan. Contohnya di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, yang menjadi klaster hilirisasi nickel ore menjadi SS.
“Kalau nickel ore dijual sekitar US$ 40-60 per ton, sedangkan ketika menjadi SS harganya di atas US$ 2.000 per ton. Selain itu, kita sudah mampu ekspor dari Morowali senilai US$ 4 miliar, baik hot rolled coil maupun cold rolled coil SS ke Amerika Serikat dan Tiongkok,” papar dia.
Di Morowali, dia menuturkan, investasi terus menunjukkan peningkatan, dari 2017 sebesar US$ 3,4 miliar menjadi US$ 5 miliar pada 2018. “Jumlah penyerapan tenaga kerja di kawasan itu terbilang sangat besar, hingga 30 ribu orang,” ungkap dia.
Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Ignatius Warsito menuturkan, untuk investasi smelter nikel, masih ada beberapa investor yang tertarik untuk masuk ke Konawe, Takalar, dan beberapa tempat di Maluku selain di Weda Bay. (
investor)