menarik. Faktor personal menjadi salah satu penentu kemenangan dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar. “Yang bisa jadi Ketua Umum Golkar adalah orang yang punya kompetensi dan kapasitas personal yang kuat,” katanya.
Modal kedua yang tak kalah penting, ia melanjutkan, yakni jaringan ke elit-elit partai, seperti para tokoh senior Partai Golkar. Selain itu, calon Ketua Umum Golkar pun harus memiliki jejaring yang sangat kuat ke pengurus daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Hanta mengatakan, calon ketua umum partai berlambang pohon beringin perlu memiliki modal kapital untuk bisa memimpin partai selama 5 tahun ke depan. “Yang paling penting, modal presidensial. Calon mesti memiliki kedekatan dengan mendapat restu atau sinyal dari kekuasaan,” katanya.
Soal penentuan Ketua Umum Golkar, ia melanjutkan, bisa saja dilakukan secara terbuka yakni dengan pemungutan suara. Meski demikian, tak tertutup kemungkinan pemilihan ketua partai dilakukan berdasarkan aklamasi.
“Kalau ternyata harus terbuka, maka kedua tokoh ingin menunjukkan pro dan dekat dengan pemerintah. Nah, keduanya sama-sama pendukung pemerintah, jadi mana yang lebih dekat itu yang akan menang,” ujar dia.
Aklamasi bukan segalanya
Politisi Senior Partai Golkar, Fahmi Idris, mengatakan Airlangga dan Bamsoet sama-sama memiliki konsep dan kemampuan untuk memajukan Golkar. Ia tak menampik bahwa tokoh yang memiliki kedekatan dengan presiden berpeluang lebih besar untuk terpilih sebagai pemimpin partai politik.
“Pada umumnya siapa saja, bukan hanya di Golkar, tapi di partai manapun, calon-calon ketua kalau cukup dekat dengan presiden, itu punya kesempatan untuk menang,” katanya. Fahmi mengaku tidak setuju dengan jalan aklamasi dalam menentukan Ketua Umum Partai Golkar 2019-2024. “Biarkan saja siapa memilih calonnya dan bebas saja. Saya yang kurang setuju tapi kan saya tidak bisa menentang,” ujar dia. (
kompas)