Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Pengamat Sebut Golkar Contoh Kematangan Proses Demokrasi
  Bambang Soetiono   20 Januari 2020
ilustrasi (net)

kabargolkar.com, JAKARTA - Pemerhati politik, Muhammad Irsyad Rumagia menilai, hingga saat ini,
proses demokratisasi Indonesia sudah mulai menunjukkan kematangannya. Mulai dari proses pemilihan umum, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, hingga dalam lingkup kecil seperti proses pemilihan Ketua Umum sebuah organiasi maupun Partai Politik.

Pernyataan Irsyad tersebut mengacu pada proses konsolidasi di internal Partai Golkar menjelang dan pasca Musyawarah Nasional yang digelar Desember 2019 lalu.

“Ambil contoh saja, di internal Partai Politik kematangan demokrasi itu sudah sangat tampak. Awalnya bergejolak, dinamikanya hebat, tetapi proses konsolidasinya selalu berakhir dalam suasana kekeluargaan serta mampu menonjolkan kedewasaan,” tutur Irsyad di Jakarta, Minggu (19/1
1/2020).

Menurutnya menjelang Munas ke X, gejolak dinamika di internal partai berlambang pohon beringin begitu kencang. Namun, pada akhirnya selesai dengan proses musyawarah mufakat, dimana Airlangga Hartarto kembali dipercaya sebagai Ketua Umum.

“Bayangkan, bagaimana kedewasaan demokrasi itu ditunjukkan oleh elit-elit Partai Golkar. Sebelum Munas dibuka, mereka mengadakan pertemuan, dan terjadilah kesepakatan untuk mengangkat kembali pak Airlangga,” tuturnya.

“Kekisruhan yang dikhawatirkan akan terjadi saat Munas Golkar, terpatahkan dengan sendirinya. Semua kembali cair dan saling berangkulan. Ini adalah bukti kedewasaan demokrasi kita,” tambahnya.

Tak cukup sampai disitu, kata dia. Pasca Munas Golkar, sebagai orang yang diamanatkan forum Munas untuk kembali memimpin Partai Golkar, Airlangga dan para elit partai terus melakukan konsolidasi, hingga terbentuknya kepengurusan baru.

Dalam hal ini, Irsyad mengapresiasi sikap politik Airlangga. Menurutnya, Menko Perekonomian itu sama sekali tidak mengutamakan ego dalam menyusun struktur partai. Bahkan, ia mampu menyatukan segala perbedaan pandangan politik di internal Golkar.

“Kalau orang yang tidak dewasa dalam politik, dia pasti akan sesukanya menyusun struktur partai. Tapi Pak Airlangga tidak, justru dia merangkul orang-orang yang sempat berseberangan dengan dia. Pak Bambang Soesatyo diangkat sebagai Wakil Ketua Umum,” katanya.

Selain itu, Irsyad juga menyoroti formasi kepengurusan DPP Partai Golkar yang menurutnya banyak diisi oleh kalangan muda. Ia menilai, dengan formasi demikian, Golkar sedang bergerak menuju organisasi Partai Politik yang modern.

“Pak Airlangga adalah orang yang selalu bicara industri 4.0. Jadi beliau paham betul tantangan masa depan itu seperti apa. Sesuai pernyataannya saat Munas Golkar, dia akan menjadikan Golkar ini 4.0. Ini bagus dan patut diapresiasi.

Adapun pandangan negatif terhadap kepengurusan Partai Golkar hari ini, baik dari internal maupun dari eksternal, menurut dia itu sesuatu yang wajar. Kata dia, sebagai manusia biasa dengan keterbatasan yang dimilikinya, Airlangga tidak mungkin dapat memuaskan semua orang.

“Kalau ada yang belum puas. Pak Airlangga memang bukan alat pemuas. Itu wajar dan sah-sah saja. Tapi ketidakpuasan itu menjadi tidak wajar kalau ditunjukkan dengan sikap tidak elegan. Dengan kata lain, karena tidak dapat jatah kue, karena kuenya terbatas, akhirnya tuan rumah yang disalah-salahi. Itu tidak wajar menurut saya,” kata Irsyad.

Lebih lanjut, Irsyad mengajak semua pihak untuk mengikuti proses demokratisasi di tanah air. Terlebih mengenai dinamika dan demokratisasi di internal Partai Politik

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.