Dari sisi ketersediaan logistik, tantangan lain yang pemerintah perlu hadapi adalah mengatasi kelangkaan dan naiknya harga alat-alat kesehatan seperti masker, antiseptik, hingga pakaian pelindung antivirus (hazmat suit). Pemerintah perlu memastikan suplai barang-barang ini tetap tersedia. Politisi Partai Golkar ini mengatakan bahwa Indonesia dapat belajar dari kebijakan yang diterapkan Pemerintah Tiongkok terkait hal ini.
Sebagai referensi, saat penerapan kebijakan lockdown pada Januari lalu, Pemerintah Tiongkok memerintahkan kurang lebih 10.000 pengusaha untuk memperluas hingga mengubah lini usaha mereka dalam rangka memastikan ketersediaan alat-alat kesehatan dan antiseptik untuk masyarakat dan petugas medis. Beberapa perusahaan minuman keras dan perusahaan mobil elektrik di Tiongkok menambahkan lini usaha mereka untuk memproduksi lebih dari 2 juta botol disinfektan dan 5 juta masker setiap harinya. Perusahaan automobil lainnya juga memproduksi kaca mata protektif untuk dokter. Selain itu, perusahaan milik negara juga telah diinstruksikan untuk menghasilkan dan mendonasikan suplai alat-alat kesehatan yang diperlukan.
“Saat situasi seperti sekarang, seluruh sektor memang patutnya berkolaborasi, bersinergi, dan gotong royong dalam pencegahan dan penanganan penyebaran wabah virus ini. Dengan bantuan pihak swasta dalam penyediaan logistik tentu sangat membantu pemerintah dalam menjamin ketersediaan
barang. Selain itu, kebijakan seperti ini dapat membantu menghidupkan industri manufaktur yang terancam akibat rendahnya permintaan masyarakat sebagai imbas dari corona,” tukas Puteri lewat rilis yang kami terima sore tadi, selasa (17/3/2020)
Terakhir, Puteri berharap agar seluruh masyarakat bersikap kooperatif dengan pemerintah dan para petugas medis untuk mempermudah penanganan virus corona.
“Ini permasalahan kita bersama. Virus corona memang berbahaya