01 Juni 2020
Catatan Ringan: Misbakhun dan Cetak Uang ala Gita
  Nyoman Suardhika
  14 Mei 2020
  • Share :
Credit Photo / Detik

Oleh: Lalu Mara Satriawangsa

Kabargolkar.com - 
Kalau soal berani, jangan ditanya. Tidak tangung-tanggung dia pernah melawan Presiden SBY. Soal pengetahuan ekonomi, meski tak bergelar akademik setinggi pakar-pakar ekonomi, dia juga menguasai. Dia boleh disebut bintang DPR kalau membahas soal-soal ekonomi keuangan. Dan sekarang, dia kembali jadi sorotan. Siapa dia? Dia adalah Mukhamad Misbakhun, anggota Komisi XI DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar.

Misbakhun bisa saja diam dan tak menyambut usulan Gita Wirjawan agar BI mencetak uang sebesar Rp4 ribu triliun untuk mengatasi persoalan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 yang sudah dinyatakan sebagai bencana nasional non alam oleh Pemerintah Indonesia.

Tapi bukan itu masalahnya, dia melihat Covid-19 bukan saja menyerang kesehatan semata, tapi juga meruntuhkan sendi-sendi perekonomian global dan nasional. Dari usaha skala besar hingga usaha yang berskala kecil, bernafas teretersenggal-senggal bak positif Covid-19. Kematian usaha di depan mata dan gelombang PHK sudah terjadi dengan jumlah jutaan orang.

Melihat hal itu, sepertinya dia sepedapat dengan Gita Wirjawan dan mengusulkan kepada BI untuk meningkatkan quantitative easing (QE). Ya, quantitative easing, bahasa keren dari cetak uang ala Gita Wirjawan. Dan Misbakhun sebagai motor penggerak agar usulan ini gol menjadi keputusan DPR.

Dalam mejelaskan soal QE, Misbakun sangat fasih. Sulit mendebatnya, kalau kurang-kurang pengusaan ilmu ekonomi. Karena dia sangat menguasai dengan detail permasalahan tersebut.

QE menurutnya lebih baik ketimbang berutang kepada IMF dan Bank Dunia. Sebab, kedua organisasi keuangan tersebut menurutnya punya kepentingan tersendiri yang harus dijalankan dalam menawarkan bantuan tersebut. Selain itu, dana dari kedua organisasi tersebut tak semerta-merta juga bisa digunakan segera mungkin. Sebab, saat ini sudah banyak negara yang antre mengajukan dana ke IMF dan Bank Dunia.

Kenapa quantitative easing? Menurutnya itu opsi terbaik, karena tidak menggantungkan nasib kita ke bangsa lain. Dan lagi, sebelum ini BI juga sudah melakukan quantitative easing (QE) dengan menginjeksi likuiditas perbankan sebesar Rp503,8 triliun. Lantas kenapa BI gamang atau tidak mau menginjeksi keuangan pemerintah dengan membeli surat utang (bonds) pemerintah?

Jadi ini bukan cetak giral dan kartal ala Evita Peron yang kita saksikan dalam film Evita yang terkenal itu. Tapi pencetakan uang atau QE ini untuk membeli surat utang (bonds) pemerintah Indonesia dengan suku bunga di bawah komersial.

Tak seorang pun bisa mematahkan argumentasi Misbakhun. Satu-satunya cara meredam dan atau mematahkan agresifitas Misbakhun adalah menyerang induk tempatnya bernanung, Partai Golkar. Dan apa yang dilakukan Sutrisno Bachir dengan menyebut motor dari usulan pencetakan uang ini adalah Partai Golkar sungguh tepat sasaran. Sontak publik kembali riuh rendah. Dan Partai Golkar pun hilang argumentasi, balik badan dan menyatakan bahwa tak pernah mengusulkan pencetakan uang. Itu usulan pribadi Misbakhun! Tragis.

Itulah nasib cetak uang ala Gita yang kempes akibat Misbakhun tak didukung oleh Partai-nya. Tanpa dukungan parpol, apa yang diharapkan dunia usaha melalui suara Gita Wirjawan dan disalurkan oleh Misbakhun tak akan terjadi. Dunia usaha dibiarkan tersengat Covid-19, tersenggal-senggal dan mati sendiri.

Kenapa BI, pemerintah, dan DPR tidak merespons usulan Misbakhun? Kenapa membiarkan pemerintah Indonesia menerbitkan surat utang di luar negeri dengan suku bunga tinggi? Kita tanya pada rumput yang bergoyang.

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.