12 Juli 2020
Ancaman Kerawanan Pangan di Tengah Covid-19
  Bambang Soetiono
  24 Juni 2020
  • Share :
ilustrasi (net)

Oleh : Khalid Zabidi

 

kabargolkar.com, JAKARTA - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah memperingatkan kepada negara anggota untuk menjaga ketersediaan pangan. FAO mencatat, pasar serelia dunia masih aman dengan pasokan produksi musim 2019-2020 yang naik 2,4% dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Harga pangan juga masih relatif rendah. Indeks harga pangan FAO pada bulan Mei 2020 turun 3,1 poin dibandingkan bulan April 2020. Ditengah wabah covid19 harga pangan dunia memang turun selama 4 bulan berturut-turut.

Meskipun demikian, ditengah surplus pangan dan rendahnya harga pangan dunia tidak menjamin kecukupan pangan di seluruh negara dan seluruh keluarga di dunia. Ada 3 penyebab utama pasokan pangan tidak dapat memenuhi kebutuhan dunia, 1, hambatan logistik dan distribusi, 2, kecenderungan proteksionisme perdagangan dan 3, mengutamakan kebutuhan domestik negara produsen.

Dalam kajiannya World Food Programme dengan judul Indonesia Covid19; Economic and Food Security Implications, menyebutkan sejumlah negara telah memutuskan untuk membatasi ekspor pangan untuk mendahulukan kepentingan pemenuhan pangan dalam negerinya. Berikut negara yang telah membatasi bahkan melarang ekspor pangan.

Ukraina, mengumumkan akan membatasi ekspor gandum musim 2019-2020 menjadi 20,2 juta ton secara total dan mempertimbangkan pemberlakuan larangan total jika diperlukan. Indonesia merupakan salah satu negara tujuan ekspor gandum Ukraina, pada tahun 2019 tercatat 3 juta ton kebutuhan gandum Indonesia di impor dari Ukraina dan menjadikan Ukraina sebagai pengekspor gandum terbesar ke Indonesia.

Vietnam, negara yang memasok 34 % impor beras ke Indonesia pada tahun 2018 dan 7,5% pada tahun 2019 telah menetapkan larangan ekspor beras pada 24 Maret 2020. Meski kemudian mengurangi pembatasan dengan tetap mengizinkan ekspor 400.000 ton beras pada April 2020.

Indonesia juga masih sangat tergantung dengan pasokan pangan impor, misalnya bawang putih dari China, pada tahun 2019 memasok 100% bawang putih ke Indonesia. Indonesia juga masih tergantung kepada Amerika untuk komoditas pangan kedelai yang memasok 94,1% kedelai impor dan Thailand memasok 80,5% gula impor.

Ketahanan pangan dan kedaulatan pangan Indonesia semakin lemah akibat wabah Covid19 ini. Ditandai dengan penurunan produktifitas pertanian dalam negeri dan meningkatnya ketergantungan terhadap pangan impor.

Prof. Dwi Andreas Guru Besar IPB University mengatakan ancaman kerawanan pangan sudah didepan mata, khususnya pada komoditas beras "Produksi padi/beras kita sudah turun sejak 4 tahun belakangan, selain karena berkurangnya lahan sawah produktif juga karena faktor lingkungan," pada diskusi yang diselenggarakan epicentrum.co.id EpicTalk dengan tema "Covid19 : Krisis Beras di Depan Mata". Prof Andreas juga mengingatkan adanya pergeseran pola konsumi rakyat Indonesia dari beras menuju gandum karena masyarakat beranggapan gandum selain lebih murah juga karena dianggap praktis dalam mengolahnya untuk dikonsumsi dibandingkan beras. Perhatian pemerintah kepada sektor pertanian dianggap belum begitu serius selain kurangnya perhatian kepada kesejahteraan petani juga memaksimalkan produktifitas pertanian dan mengembangkan keberagaman pangal lokal.

Keadaan ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia yang sedang dilanda wabah Covid19 dan menyusul resesi ekonomi dan pada akhirnya akan menghadapi ancaman kerawanan pangan. Ibarat pepatah, Sudah jatuh tertimpa tangga pula. (Khz)

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.