22 Juni 2021
Idul Fitri Dan Optimisme Bangsa
  Nyoman Suardhika
  12 Mei 2021
  • Share :
Credit Photo / Istimewa

Oleh:  Nur Khalis

Kabargolkar.com - 
Tahun ini akan mengalami hal yang sama dengan tahun kemaren, merayakan hari raya idul fitri dengan keterbatasan ditengah pandemi covid 19 yang tak kunjung selesai. Karantina rohani sebagai sarana penguatan diri  selama 30 hari dengan ibadah bulan puasa menahan rasa lapar dan dahaga bahkan karena masih dalam suasana pandemi umat Islam harus juga menahan diri dari banyak beraktifitas dan beribadah diluar rumah semua terjadi dalam keterbatasan.

 

Kini idul fitri telah tiba sebagai puncak dari segala ibadah dibulan puasa yang seyogyanya sesuai dengan konteks tradisi masyarakat Indonesia  dirayakan dengan kemegahan dan kemeriahan. Namun tradisi masyarakat ini akan kembali disterilkan dari eoforia dan tradisi kumpul-kumpul secara fisik serta dari tradisi mudik sesuai anjuran pemerintah.

Kembali ke Jati diri yang fitrah

Keluar dari konteks tradisi masyarakat Indonesia, sejatinya idul fitri,  bukan identik dengan baju baru, pulang kampung, saling berjabat tangan, tapi esensi dari idul fitri kembalinya jati diri menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa.

Dari penempaan diri selama bulan ramadhan dengan riyadhah menahan diri dari perbuatan tercela yang merugikan orang lain, menghindarkan diri dari  iri hati dan dengki, menghentikan diri dari saling caci serta berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan pembinaan mental-mental yang tangguh menuju insan paripurna.

Proses rekonsiliasi diri ini akan membentuk kesadaran kolektif akan pentingnya ketulusan, keikhlasan dan keteguhan dalam berprinsip serta sikap memaafkan orang lain. Oleh karena itu sesungguhnya pesan  idul fitri tidak hanya seputar ritual semata tapi ada muatan penguatan spritual yang terjawantahkan dalam bentuk amal soleh.

Potret kedirian dan kembali ke jati diri yang sesungguhnya adalah ruh idul fitri sebagai hari penyucian diri ( tazkiyatun nufus )dari sikap keangkuhan dan keakuan, serta adanya ghiroh ( semangat ) dan motivasi untuk meningkatkan kualitas kedirian dari waktu ke waktu sejatinya potret kemenangan yang hakiki.

Kemenangan melawan hawa nafsu syaitoniyah dan kemampuan mengontrol diri dari perbuatan yang tercela dan mengubahnya dengan prilaku yang konstruktif, empatik dan produktif serta saling percaya yang terjalin dalam prilaku keseharian adalah  mudik suci  sebenarnya  yang juga dilakukan para salafus sholih penyampai risalah kenabian-kerasulan sekaligus sebagai kholifah fil ard.  

MENYALAKAN API OPTIMISME

Perubahan hidup di era disrupsi yang ditandai dengan era digital telah menerobos sekat-sekat geografis. Evolusi teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan perubahan yang fundamental dalam berbagai aspek kehidupan termasuk perubahan cara pandang baru terhadap kehidupan.

Perubahan yang begitu cepat ini adalah tantangan baru bagi sebuah bangsa untuk melakukan adaptasi dan keharusan berstrasnformasi dengan kehidupan baru. Pandemi covid 19 yang berseiring dengan perubahan ini menambah rentetan problematika yang masih belum menemukan titik temu yang presisi untuk jalan penyelesaiannya.

Semua negara-negara didunia berlomba-lomba keluar dari krisis yang mengancam segala aspek kehidupan. Ketimpangan sosial, kemiskinan, benturan-benturan antar kelompok, antar agama bahkan ketegangan antar negara semakin menambah keresahan ditengah perubahan peta kekuatan dunia.

Idul fitri sebagai momentum menghadirkan kembali spirit optimisme bangsa dan semangat nasionalisme, yaitu semangat memperjuangkan tanah air. Setiap generasi bangsa harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Karena lemahnya harapan atau rasa optimis (Menurut Musthofa Al-Gholayini pengarang kita idhotun Nasyiin )  adalah salah satu penyakit jiwa yang mempunyai dampak luas dan merupakan virus yang membahayakan keberlangsungan pembangunan dan kehidupan.

Dengan demikian sikap optimis yang ditopang kesadaran diri dalam bentuk ikhtiar yang sempurna akan mengantarkan kepada garis kehidupan yang dicita-citakan.

Demikian juga situasi kebangsaan ini  memerlukan sikap optimisme dari segenap generasi bangsa dalam menggerakkan kehidupan yang dinamis. Dinamis merupakan sikap penuh semangat dan energic sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Konsistensi dalam memperjuangkan harapan dan cita-cita yang diiringi ikhtiar dan doa adalah pendorong utama kemajuan dan tercapainya keberhasilan keluar dari problematika bangsa ini.

Oleh karena itu Idul fitri ini harus menjadi episentrum kekuatan  kembalinya spirit optimisme bangsa. Resep-resep keadaban selama melakukan karantina ruhiyah nufusiyah selama bulan ramadan harus menjadi stimulus dan bersemainya sikap optimis dan terpinggirnya sikap-sikap statis-pesimis yang diselimuti keraguan dan kebingungan.  

Karena hidup yang disertai putus asa adalah sebuaah kematian. Hanya dengan jiwa-jiwa optimis sebagai sebuah keyakinan akan masa depan bangsa ini akan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api semangat dalam membangun etos, memperbaiki kualitas diri, dinamis dalam berpikir, cerdas dalam berkreasi, berinovasi serta selalu beradaptasi dengan zaman yang termanifestasi dalam kesalehan sosial adalah prasyarat meraih kemenangan idul fitri yang hakiki dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Mari sambut kemenangan ini dengan gema takbir, tahmid dan tahlil  sebagai bentuk komitmen spritualitas akan hadirnya perubahan diri dan sikap optimis setiap generasi bangsa yang akan dipersembahkan untuk kemajuan bangsa kedepan. Insya Allah dengan kesiapan diri untuk berubah menjadi pribadi pribadi yang bertakwa, pribadi-pribadi yang optimis yang ditopang semangat cinta tanah air, problematika bangsa ini akan segera berakhir.

Mari satukan tekad dan komitmen untuk berjuang bersama menuju Indonesia sehat – Indonesia bangkit dari keterpurukan. Dengan kematangan jiwa dalam bersikap, keluruhan akhlakul karimah dalam bertindak, konsistensi dalam prinsip keimanan, saling percaya dan saling memaafkan yang didemontrasikan dalam kehidupan baik secara individual maupun sosial akan memancarkan cahaya ketakwaan dan kemenangan yang hakiki.    Allahu Akbar 3X Lailaha Illallahu huwallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu. *Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin.


Nur Khalis Plt. Sekretaris DPD Golkar Sumenep

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.