Melalui konsep persaudaraan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah) tersebut, Nabi SAW disatu sisi ingin memberikan keteladanan kepada umatnya untuk menghayati keragaman dan perbedaan di antara mereka sebagai rahmat Tuhan, disisi yang lain Nabi Muhammad sekaligus membuktikan mampu menyatukan perbedaan, kepentingan dalam ikatan persaudaraan ditengah masyarakat yang berbeda-beda agamanya, haluan budayanya bahkan keyakinannya, kebangsaannya, Arab dan Yahudi semuanya guyub, rukun, egaliter antara satu golongan dengan golongan yang lainnya dalam tanggung jawab yang sama memelihara keamanan dan ketertiban dan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan jaminan keamanan.
Etos kepemimpinan yang digerakkan Nabi Muhammad yang sebagai pengejawatahan dari sifat-sifat keadaban yang dimiliknya dari kejujuran, amanah, fatonah dan tabligh ( transformatif ) menghantarkan madinah sebagai negara modern, bahkan terlalu sangat modern untuk ukuran zaman itu. ini semakin menunjukkan kepiawaian dan kemampuan Nabi dalam mengelola organisasi kenegaraan dan pemerintahan yang baik dan dinamis.
Dalam konteks Indonesia tentunya yang kita harapkan konsep hijrah yang mencerahkan, hijrah yang mengandung muatan transformasi keadaban dalam berbagai lini kehidupan yakni terwujudnya sebuah umat ideal (khaira ummah) yang berkedaban dalam wadah NKRI, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Penguatan spirit hijrah dalam menstranformasikan nilai-nilai keadaban dalam ruang publik ini sangat penting ditengah merebaknya fenomena sosial dan problematika bangsa yang sudah menjadi panggung dramatisasi dan orkestrasi kehidupan masa kini.
Orkestrasi segologan masyarakat yang mengatasnamakan dirinya dengan Atas nama demokrasi, kesantunan publik ditanggalkan; atas nama keterbukaan, aib orang lain dibongkar; atas nama kebebasan pers, kode etik ditinggalkan. Atas nama globalisasi, kearifan lokal dimuseumkan , Atas nama kebebasan akademik, guru-ulama dicaci-maki; Atas nama peningkatan pendapatan daerah, pariwisata syirik dan seksual dibuka; Atas nama stabilitas Nasional kebebasan berpendapat dibungkam. Dan Masih banyak lagi fenomena-fenomena sosial lainnya yang rawan membawa keretakan sosial. Melakukan pembiaran terhadap fenomena tersebut berarti membiarkan tergerusnya nilai-nilai keadaban dalam berbangsa dan bernegara.
Maka Spirit Menghidupkan memori Hijrah bagi Umat Islam sebagai bentuk komitmen yang kuat dan keberanian melakukan transformasi diri ke arah yang lebih positif dan konstruktif sebagai pioner dalam membawa visi Islam rahmatan lilalamin dan menjadi Umat terbaik yang selalu membawa dan menebar manfaat-kebaikan bagi semua makhluk di alam semesta. Selamat Tahun baru 1443 Hijriyah
Nur Khalis: Ketua Satkar Ulama Surabaya