Oleh: Tonny Saritua Purba
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sudah pernah
mengingatkan kepada semua anggotanya termasuk Indonesia juga agar siap siaga dalam menghadapi krisis ketahanan pangan Global. Menurut laporan FAO tahun 2021 ada sekitar 970.000 orang yang berisiko kelaparan di beberapa negara, seperti Afghanistan, Ethiopia, Somalia, Sudan Selatan, dan Yaman. Jumlah orang yang menghadapi kelaparan di seluruh dunia juga meningkat sekitar 828 juta dan ada 3,1 miliar orang tidak mampu mendapatkan makanan sehat.
Menurut FAO ada beberapa hal untuk mencapai konsensus yang memungkinkan tercapainya kemajuan dalam antisipasi krisis pangan yakni mencakup sisi produksi komoditi pertanian bagi semua negara, tercukupi kebutuhan nutrisi , pelestarian lingkungan hingga kehidupan yang lebih baik bagi semua. FAO juga menyerukan agar mengubah sistem pertanian pangan global menjadi sistem pertanian lebih efisien, inklusif, tangguh dan berkelanjutan.
Demikian juga Presiden Joko Widodo memberikan perhatian serius terhadap adanya potensi krisis pangan karena situasi global saat ini, adanya perang antara Ukraina dan Rusia, El Nino berdampak kepada penurunan hasil panen dan adanya larangan ekspor beras dari India dan negara Thailand, Kamboja juga membatasi ekspor berasnya berdampak harga beberapa komoditas seperti gandum, beras, pestisida dan pupuk menjadi mahal.
Sejarah Krisis Beras Pernah Terjadi Di Indonesia
Tahun 1946 satu tahun setelah Indonesia merdeka, Indonesia pernah membantu negara India yang saat itu sedang mengalami kesulitan pangan dengan mengekspor beras sebanyak 500 ribu ton.
Sejak Merdeka sampai tahun 1949, Indonesia belum pernah impor beras, tetapi karena produksi beras menurun, maka saat awal tahun 1960, Indonesia impor beras, saat itu menjadi salah satu negara importir terbesar di dunia, dengan nilai impor sebanyak 800 ribu ton sampai 1 juta ton per tahun, kondisi tersebut sangat ironis karena setelah setahun Indonesia merdeka, Indonesia adalah negara pengekspor beras.
Krisis beras di Indonesia terjadi tahun 1964 berawal karena adanya kenaikan harga beras yang tidak terkontrol, stok beras nasional tidak mencukupi karena produksi beras nasional juga mengalami penurunan. Saat krisis beras terjadi, jika masyarakat ingin membeli beras dibatasi, masyarakat hanya bisa membeli beras sebanyak 5 kilogram karena warung keterbatasan stok beras bahkan di beberapa warung stok berasnya kosong. Saat itu banyak masyarakat yang akhirnya memakan bulgur atau bubur gandum.
Mungkinkah Krisis Beras Akan Terjadi Lagi Di Indonesia ?
Dari sejarah krisis beras yang pernah terjadi di Indonesia yang diawali dari adanya penurunan produksi beras tahun 1960 sampai meroketnya harga beras tahun 1964, kondisi yang terjadi saat itu warung penjual beras membatasi penjualannya hanya boleh 5 kilogram saja dengan harapan beras bisa terbagi merata ke semua masyarakat, termasuk juga di beberapa warung stok beras pedagang sudah habis terjual dan tidak ada lagi.
Apa yang telah terjadi kurun waktu tahun 1960 sampai tahun 1964 adalah sebagai sebuah pembelajaran sejarah kelam buat bangsa dan negara Indonesia