Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Prof Henry Indraguna; Indonesia Gelap, Menyoal Demonstrasi dan Komunikasi yang Macet.
  Muzaki   03 Maret 2025
Prof. Henry Indraguna, SH. MH
Pakar hukum Prof Dr Henry Indraguna SH. MH menyebutkan bahwa ada
banyak alasan di balik peristiwa demo besar mahasiswa di berbagai daerah dengan tagar Indonesia Gelap, 
salah satunya adalah komunikasi yang macet para penyelenggara negara yang gagal menyampaikan program kepada rakyat
 
SUARAKARYA.ID: Indonesia Gelap menjadi tema panas belakangan ini. Unjuk rasa di berbagai kota mengusung tema yang sama. 
Pakar hukum Prof Dr Henry Indraguna SH. MH menyebutkan bahwa ada banyak alasan di balik peristiwa ini.
 
Pemicu utama diawali dari masalah ekonomi sampai kebebasan berbicara yang dianggap dibatasi dan gaya komunikasi yang kurang bisa diterima akal sehat oleh rakyat. 
 
"Salah satu alasan adalah masalah ekonomi. Ketika harga-harga barang naik, lapangan pekerjaan terbatas dan nyaris jamaknya pengangguran. Lalu terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar, tentu aja rakyat merasa tertekan sehingga demo yang dilakukan mahasiswa sebagai amplifikasi suara dari kondisi masyarakat yang sesungguhnya, adalah reason yang wajar diteriakkan kepada penguasa," ujar Prof Henry merespon viralnya demo mahasiswa di beberapa daerah tentang "Indonesia Gelap" di Jakarta, Kamis (20/2/2025). 
 
Profesor dari Unissula Semarang ini juga menyoroti kebijakan efisiensi anggaran yang dijadikan preferensi tepat untuk menyiasati cupetnya fiskal. Tentu kebijakan pemerintah ini memicu protes masyarakat yang tak berpihak kepada mereka sebagai klas berpenghasilan rendah bahkan susah hidup. Terlebih kalau pengeluaran sehari-hari makin berat. Ini terjadi ketika daya beli turun.
 
Selain itu dia menyebut bahwa penegakan hukum yang berkeadilan sosial juga menjadi masalah bangsa ini. 
 
Negara belum mampu berlaku adil untuk menghukum berat dan memiskinkan para perampok uang rakyat karena tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme. 
 
Sementara masih banyak rakyat yang belum mendapatkan penghidupan yang layak dan manusiawi sebagai warga bangsa yang bermartabat di negeri yang sudah merdeka 79 tahun ini. 
 
"Berbagai saluran untuk protes ternyata juga belum mendinginkan suasana. Selain itu persoalan penegakan hukum terutama korupsi juga ikut memperburuk situasi. Sehingga rakyat menilai bahwa negara belum berlaku adil untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia seperti amanah konstitusi," bebernya.
 
"Pemerintah kita lihat sudah berusaha sekuat kemampuan mewujudkan hal ini. Tentu ada perbedaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat sehingga apa yang dilakukan pemerintah belum dianggap cukup bijaksana untuk berpihak kepada rakyatnya," imbuhnya. 
 
Doktor Ilmu Hukum dari UNS Surakarta dan Universitas Borobudur Jakarta ini menawarkan beberapa solusi untuk meminimalisir unjuk rasa agar tak sampai anarkis dan malah merugikan kepentingan umum. 
 
"Pertama adalah semua penyelenggara negara dari Presiden hingga pemerintahan paling bawah harus dapat melahirkan pengelolaan uang rakyat secara transparan memberikan pelayanan publik. Prinsipnya pemerintah perlu lebih terbuka soal bagaimana dana negara digunakan dan pastikan tidak ada yang disalahgunakan," tegasnya. 
 
Kedua adalah fokus kerja pemerintah harus memprioritaskan pelaksanaan kebijakan yang benar-benar mendorong kesejahteraan masyarakat. 
 
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.