17 Januari 2021
Dedi Mulyadi Ungkap Filosofi Pembentuk Karakter Bangsa
  Bambang Soetiono
  25 Juni 2020
  • Share :
Dedi Mulyadi (net)

kabargolkar.com, JAKARTA - Memasuki masa "kenormalan baru" atau "new normal", pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) diharapkan dapat menjadi tulang punggung atau penyokong dalam mendukung proses pembelajaran di pendidikan tinggi.

Pelaksanaan PJJ terbukti telah menjadi salah satu solusi bagi perguruan tinggi dalam mengatasi keterbatasan pelaksanaan pembelajaran selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang hampir memasuki bulan ke-3 ini.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi menjadi narasumber acara Webminar Pendidikan Bersama dengan topik "Semesta Landasan Filosofi Karakter Bangsa" yang diselenggarakan pada Rabu (24/6/2020) 13.30 WIB.

Selain Dedi Mulyadi, sebagai narasumber dalam acara itu, Pakar Ideologi Kebangsaan, Yudi Latif Pakar, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud RI, Ir. Hendarman dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Purwanto.

Dalam Webminar tersebut, Dedi Mulyadi mengatakan filosofi Sunda untuk mensejahterakan rakyat dan bangsa ada tiga langakah yang disebut Tata Salira, Tata Negara dan Tata Buana.

"Ketiga tata atau aturan ini harus beruut untuk dilaksanakan. Mengatur dan mendidik diri sendiri, mempersiapkan jati diri menjadi pribadi kokoh, pribadi yang tidak "setengah matang" agar ketika beranjak keluar, masuk dalam sistem kewargaan agar bisa berkembang mencapai pada derajat kesempurnaannya," jelasnya. Rabu (24/6/2020).

Mantan Bupati Purwakarta ini menambahkan satu aspek dalam kebudayaan Sunda disebut dengan istilah tri tangtu di buana, yakni pembagian tata ruang menjadi tiga wilayah. Ketiganya itu adalah dunia atas terdiri dari pegunungan, dunia pertengahan untuk perkampungan, dan dunia bawah yakni pantai. Di antara ketiganya memiliki jarak yang cukup jauh satu sama lain.

"Ketiga aspek alam ini bisa dilakukan sebagai laboratorium para siswa untuk mencerdaskan dan generasi penerus kehidupan bangsa," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud RI mengatakan pendidikan mewajibkan anak keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar tidak akan dapat mungkin akan mencapai tujuannya.

"Untuk mencapai SDM unggul ada beberapa cara beriman bertaqwa kepada Tuhan, Kebhinekaan tunggal, mandiri, bergotong royong dan bernalar kritis kreatif," paparnya.

Dikesempatan yang sama Pakar Ideologi Kebangsaan, Yudhi Latif menyebutkan pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya yang belajar dari kehidupan sepanjang hidup.

"Sesungguhnya dari sebuah proses belajar itu yang paling tidak enak adalah apabila kita mengerjakan sesuatu lalu tidak ada refleksi atau tidak ada komentar sama sekali, seperti robot berhadapan dengan mesin," ungkapnya.

Kemudian menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Purwanto menjelaskan untuk mengembangkan potensi perserta didik diperlukan kerangka peradaban yang tinggi.

"Sekolah merupakan persemian nilai-nilai yang mampu mengantarkan puncak anak, baik potensi spiritual kecerdasan dan lainnya. Falsafah pun harus humanis yang menimbukan kebahagiaan yang berharga dan bermanfaat bagi lingkungan," tandasnya.

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.