Ia mengatakan Fraksi Partai Golkar menjadi pioner yang mendorong, mendesak serta menekan pemerintah untuk menaikkan penambahan alokasi elpiji 3 kg. Sebelumnya hanya sekitar 7 juta metrik ton menjadi 7,5 juta metrik ton untuk seluruh Indonesia.
"Kalau dikonversi nilai uang sekitar Rp 70 triliun subsidi pemerintah untuk elpiji 3 kg, tinggal kita bagi alokasinya, dan sebagai anggota DPR dari Kalbar untuk mengawal," tuturnya.
Sementara untuk jangka panjang, pria yang khas dengan brewoknya ini mengatakan diperlukan perubahan sistem subsidi pada elpiji 3 kg yang selama ini terjadi.
"Sekarang ini subsidi terbuka, kita mendorong agar menjadi subsidi tertutup. Subsidi terbuka yang disubsidi tabungnya, jika tidak disubsidi, harganya sekitar Rp 50 ribu. Namun jika subsidi tertutup, yang disubsidi ialah orang miskin. Pemerintah memberikan uang kepada orang miskin agar bisa membeli elpiji, kemudian elpiji dijual dengan harga market, sehingga subsidi tepat sasaran," jelasnya.
Namun Maman mengakui, pelaksanaan subsidi tertutup masih terhambat pada data orang miskin yang masih sengkarut. Sehingga, lanjut dia, perlu didorong agar sengkarut data orang miskin ini diselesaikan.
Ia memperkirakan, dengan metode subsidi tertutup, negara disebutnya bisa menghemat hampir Rp 35-40 triliun per tahun.
"Kuncinya ada di pemerintah, mau serius tidak membenahi sengkarut problematika data orang miskin kita di Indonesia, dan khususnya di Kalbar, sehingga jika diterapkan kebijakan subsidi tertutup tidak ada yang teriak lagi," katanya.
"Saya mendorong agar kita semua mengusulkan ke pemerintah pusat agar mengubah sistem subsidi terbuka menjadi sistem subsidi tertutup," pungkas Maman. [tribun}