Kabargolkar.com - Seorang kepala desa (Kades) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, memasang baliho 'Enak Zaman PKI' dan bernada memaki pejabat terkait PPKM Darurat. Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Golkar Supriansa menilai seharusnya calon kades memahami serta mendalami wawasan kebangsaan.
"Mungkin dengan peristiwa itu sehingga ke depan sudah perlu dipikirkan calon kepala desa harus memahami dan mendalami wawasan kebangsaan," kata Supriansa kepada wartawan Kamis (15/7/2021).
Lalu, apakah calon setiap calon kades dites wawasan kebangsaan?
"Jika dipandang perlu, maka itu bisa dipikirkan. Agar pengetahuan wawasan kebangsaan semakin mantap," ucapnya.
Dia mengatakan sebagai pemimpin harus memahami sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, bangsa yang besar butuh perhatian dan dukungan semua pihak untuk bahu membahu mempertahankan dari segala bentuk ancaman perpecahan, baik dari dalam maupun dari luar.
Supriansa menyebut PKI adalah lalu bagi bangsa Indonesia yang sudah tercatat dalam perjalanan sejarah. Dia berharap tak ada pihak yang kembali mengungkit-ungkit tentang PKI.
"Apalagi membanding-membandingkan seperti itu agar tidak ada yang terlecehkan. Mari saling menguatkan untuk menghadapi hari esok yang lebih baik," ujarnya.
Kades Pasang Baliho 'Enak Zaman PKI'
Kades di Kecamatan Jenar, Sragen, bernama Samto, memasang baliho mengkiritik kebijakan pemberlakuan PPKM Darurat yang diterapkan pemerintah. Samto mengaku tidak setuju dengan kebijakan yang dinilainya menyusahkan masyarakat tersebut.
Baliho berukuran cukup besar tersebut dipasang di depan balai Desa Jenar. Selain bertuliskan kata-kata yang cenderung kasar, baliho ini juga dipasangi foto sang kades berseragam dengan memasang masker di dahi. Begini bunyi baliho tersebut:
IKI JAMAN REVORMASI, ISIH PENAK JAMAN PKI
AYO PEJABAT MIKIR NASIBE RAKYAT.
PEJABAT SENG SENENG NGUBER UBER RAKYAT KUI BANGSAT
PEGAWAI SENG GOLEKI WONG DUWE GAWE IKU KERE
PEGAWAI SING SIO KARO SENIMAN SENIWATI KUWI BAJI**AN
(Sekarang zaman reformasi
Masih enak zaman PKI
Ayo pejabat memikirkan nasib rakyat
Pejabat yang suka mengejar rakyat itu bangsat
Pegawai yang suka mencari orang punya hajat itu kere
Pegawai yang menyia-nyiakan seniman seniwati itu baji**an)