Kabargolkar.com - Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Mukhtarudin menyoroti naiknya harga bahan pokok jelang tahun baru 2022, khususnya terhadap harga minyak goreng.
Menurut anggota Komisi VII DPR ini, naiknya harga minyak goreng akan menambah beban rakyat, terutama kelas bawah di tengah pemulihan ekonomi pascahantaman pandemi Covid-19.
Oleh sebab itu, Mukhtarudin meminta pemerintah untuk segera mengatasi lonjakan harga minyak goreng tersebut.
"Saya kira hal ini harus ada intervensi dari pemerintah, sehingga dapat menekan dan mengendalikan kenaikkan harga minyak goreng di tengah masyarakat," kata Mukhtarudin dalam keterangan persnya, Rabu (29/12/2021).
Menurut Mukhtarudin, melonjaknya harga minyak goreng terlalu tinggi bisa menyebabkan inflasi.
Mukhtarudin menegaskan, kenaikkan harga minyak goreng itu disebabkan karena tingginya harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.
"CPO dunia memang sedang tinggi, petani sawit pun ikut menikmati. Namun ini rawan terhadap inflasi yang dipicu naiknya harga minyak goreng," ungkapnya.
Politisi Dapil Kalteng (Kalimantan Tengah) ini juga meminta pemerintah, agar segera mencari solusi antarpemangku kebijakan.
"Kehadiran pemerintah mesti dapat dirasakan masyarakat dengan pengendalian harga minyak goreng yang merupakan kebutuhan konsumsi sehari-hari," ujarnya.
"Paling tidak, produsen dapat menyiapkan minyak goreng kemasan khusus yang harganya terjangkau di masyarakat," tutupnya.
Diketahui bahwa belum lama ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berkunjung ke pasar Rakyat Phula Kerti, Denpasar Bali, meninjau langsung aktivitas ekonomi dan memastikan daya beli masyarakat.
"Di sini kami mencoba untuk melakukan operasi pasar minyak goreng berada di kisaran Rp 14.000 ribu per liter, jadi ada kenaikan harga," tutur Menko Airlangga.
Saat ini, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) internasional berkisar di angka 1.305 dolar AS per metrik ton atau naik 27,17 persen dibandingkan awal tahun 2021 yang memicu kenaikan minyak goreng curah. Kini, minyak goreng curah di angka 17.600 per liter dan minyak goreng kemasan tergeser menjadi 19.000 per liter.