"Merdeka sekarang, tidak disayangkan lagi, semuanya sudah berakhir. Panjang umur Pak Dedi,” kata Mang Engkus, senang.
Kang Dedi selanjutnya membawa Mang Engkus untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB), agar bucatnya Mang Engkus tidak justru menambah jumlah anak.
Kang Dedi membawa Mang Engkus ke klinik di Purwakarta untuk menjalani prosedur KB MOP (Metode Operasi Pria) yang efektif mencegah kehamilan. Mang Engkus ditangani oleh dokter yang sudah berpengalaman di Jawa Barat dalam hal KB MOP.
Adapun prosesnya, rambut kemaluan harus dicukur terlebih dahulu. “Saya berharap abi berjalan dengan baik. Pergi diukur Anton. Ridona nyak Nyai,” kata Mang Engkus sambil tertawa.
Usai bercukur, Mang Engkus kemudian masuk ke ruang operasi. Mang Engkus kembali meminta istrinya untuk mendoakannya agar berjalan lancar. “Nyi doakan nyak, semoga ada kemajuan, Aa ini mau MOP Men’s Operation Method,” kata Mang Engkus.
Tidak berselang lama, Mang Engkus akhirnya keluar dari ruang operasi dengan senyum yang lebar. “Alhamdulilah bapak,” ujar Mang Engkus ke Kang Dedi. Ia mengaku prosedur KB MOP tidaklah sakit.
Dokter berpesan kepada Mang Engkus agar beristirahat selama seminggu tidak melakukan hubungan suami istri. Setelah itu baru boleh namun memakai kondom dalam rentang 21 kali berhubungan. Adapun Mang Engkus menyebut kondom sebagai komdown.
Mang Engkus kemudian tambah sumringah karena mendapatkan uang sebagai apresiasi sudah ikut program KB.
Selanjutnya, Kang Dedi membawa Mang Engkus untuk makan di restoran. Adapun Kang Dedi sendiri tidak makan karena sedang berpuasa. Sembari Mang Engkus makan, Kang Dedi pergi mengisi acara di tempat lain. Mang Engkus makan dengan rakus. Lalu tertidur dan baru terbangun setelah Kang Dedi datang.
Mang Engkus memuji masakan di resto tersebut enak sekali. Ia mengaku baru pertama makan masakan seenak ini. Kang Dedi lalu membungkus masakan tersebut untuk dikirimkan ke banyak keluarga Mang Engkus di Bandung. Sekalian mengirimkan telur sebanyak satu mobil box untuk dibagikan kepada para tetangga Mang Engkus.
Selanjutnya Kang Dedi membawa Mang Engkus untuk berbelanja baju di Mall. Mang Engkus membelikan pakaian dalam untuk istri tercinta Nyai.
Mang Engkus memilih sendiri bra dan CD untuk Nyai. “Bagus itu transparan,” kata Mang Engkus sambil membalik celana dalam wanita itu sambil tertawa.
“Huuh bagus transparan,” kata Kang Dedi.
Mang Engkus memilih BH sebanyak delapan buah dan CD sebanyak delapan buah, termasuk yang tranparan tadi. Lalu membeli sesetel pakaian untuk Nyai dan untuk dirinya juga. Total belanjaan sebanyak Rp1,6 juta.
Kang Dedi memberikan uangnya ke Mang Engkus untuk dibayarkan ke kasir. Saat tahu total harganya sebesar itu, Mang Engkus tampak ragu-ragu.
“Alah, lebar. Tapi da tos kagok,” ujar Mang Engkus, lemas, membayarkan uangnya ke kasir.
Mang Engkus mengaku belum pernah belanja pakaian dalam hingga jutaan rupiah. Biasanya beli pakaian dalam ke pasar Caringin yang harganya RP15 ribuan.
“Di Caringin, celananya, minimal Rp15 ribu. Ini shock yang kuat,” kata Mang Engkus, Kang Dedi tertawa.
Selain membelikan pakaian untuk Mang Engkus dan Istri, Kang Dedi juga menitipkan uang untuk Emak Mang Engkus.
Kang Dedi berpesan agar uang tersebut harus diberikan kepada emak untuk mengganti anting emasnya yang dulu dijual demi biaya lahiran anak Mang Engkus.
“Yang penting uangnya dikasih ke ibu,” kata Kang Dedi.
“Ya