Kabargolkar.com - Setelah sebelumnya menolak Festival Sare Dame yang dikhawatirkan akan mengungkit kembali trauma lama perang Paji-Demong, Politik adu domba ala Kolonial Belanda, Petrus Bala Wukak, anggota DPRD Lembata, NTT, dari Fraksi Partai Golkar kembali buka suara.
Kali ini Bala Wukak menyoroti ritual Sare Dame yang dibungkus dalam kegiatan Eksplorasi Budaya Lembata. Petrus Bala Wukak menjelaskan, pada Selasa (18/1/2022) saat rapat kerja Komisi III dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Dinas mengaku telah mengubah nama Festival Sare Dame menjadi Eksplor Budaya Lembata.
Menurut Bala Wukak, terdapat satu hal yang menarik untuk dikritisi, yakni seremonial adat di 10 titik kecamatan, yakni Atadei di Desa Atakore, Wulandoni di Labala, Nagawutung di Boto, Lebatukan di Leragere , Kedang di Kalikur dan Benihading, Ile Ape di Desa lewotolok, Lewohala.
"Satu pertanyaan yang saya ajukan ke Pak Markus sebagai Kadis (Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga) yaitu motivasi dasar seremoni itu apa dan siapa yang melegitimasi mereka di 10 titik untuk melakukan seremoni dan siapa mereka itu. Saya lihat Pak Kadis Markus Waleng tidak bisa menjelaskan yang menyentuh substansi pertanyaan saya," tegas Bala Wukak.
Bagi orang Lamaholot dan orang kampung, kata dia, selalu berkeyakinan bahwa mantera ritual itu said, keramat dan memiliki daya magis yang tinggi yang berkonsekwensi pada jatuhnya korban jika salah orang, salah omong, salah tujuan. Apalagi jika dilakukan dengan hati tidak ikhlas dan pihak sebelah (Pihak lain) juga tidak ikhlas.
"Ritual adat adalah sebuah tindakan sadar setelah ada realitas sosial yang kacau karena tindakan menyimpang antara manusia terhadap manusia, manusia terhadap alam sekitarnya," tegasnya.
Ritual yang berisi kata said dan keramat itu, menurut dia, tidak bisa dibuat tanpa sebab yang telah diketahui atau dilihat (misalnya dalam mimpi oleh atamolan atau dukun).
"Itulah kenapa ritual adat tidak bisa sembarang dibuat dan tidak bisa juga diintervensi oleh negara atau pemerintah daerah. Maka terkait ritual adat di 10 titik di Lembata saya tolak untuk dilakukan oleh kegiatan berkedok eksplor budaya oleh Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga di bawah Kepemimpinan Bupati Thomas Ola," tegas Bala Wukak.
Ia menegaskan pula bahwa seremoni di 10 titik itu rawan menimbulkan konflik sosial. Karena itu, sebagai anggota Dewan, ia berkewajiban untuk mengingatkan pemegang kekuasaan agar jangan mengintervensi terlalu jauh adat masyarakat yang dipandang sakral dan masih ada sampai saat ini.
Diketahui, Eksplorasi budaya Lembata yang digelar Pemkab Lembata dimulai 7 Februari hingga 7 Maret 2022 yang disertai beberapa ritual.
Berikut 7 lokasi dengan ritual yang diadakan: Ile Ape Maka (Pao Boe) dan Jontona (Ude Ili), Lebatukan di Banitobo (Gewale Lomasa Doa), Lodotodokowa (Lou Tiwa), Buyasuri di Benihading (ritual Lu Uje Bei Ara), Buyasuri di Kalikur (Bineng Maing), Atadei di Atakore (Upacara Tugul Gawak), Wulandoni di Leworaja (Ritual Paku Lewo), Nagawutung di Belabaja (Ritual Orok Keverok), Nubatukan di Baolangu (Ritual Gwale Kleru Malu, Koli Tbako). [Victory News]