Kabargolkar.com - Fenomena antre minyak goreng di Indonesia menjadi sorotan Ketua Umum PDI
Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Ia menyoroti banyaknya emak-emak yang rela mengantre panjang demi mendapatkan 1 liter minyak goreng.
Megawati pun memberikan saran, bila mengolah makanan tidak hanya digoreng, tapi bisa juga dengan cara lain, seperti direbus atau dikukus.
Pernyataan Megawati tersebut pun mendapat dukungan Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ridwan Hisjam. Menurutnya, masyarakat tak perlu berburu minyak goreng murah dengan desak-desakan mengantre.
Ia menilai, masyarakat bisa memilih cara masak yang lain tanpa harus ketergantungan dengan minyak goreng, misalnya dengan direbus atau dikukus.
"Apa yang disampaikan Ibu Mega benar, masyarakat tidak perlu panik dengan adanya kelangkaan minyak goreng yang membuat antrean panjang. Kalau memang tidak ada minyak goreng, atau ada tapi harganya mahal, ya sudah tidak perlu dibeli, ganti masakan dengan cara merebus atau dikukus," ujar Ridwan, dikutip Senin (21/3/2022).
Lagi pula kata Ridwan, masakan dengan cara direbus, atau dikukus jauh lebih sehat daripada digoreng dengan minyak sawit karena mengandung kolestrol tinggi.
Untuk itu, Ridwan mengajak masyarakat agar tidak ketergantungan dengan minyak goreng sebagai media memasak.
"Kita bisa kembali ke zaman dulu, minyak goreng kemasan itu kan baru ada tahun 90-an. Dulu orang tua kita itu justru lebih senang memasak dengan rebusan, atau dikukus, dan nyatanya waktu belum ada minyak goreng, masyarakat tidak ada masalah, sehat-sehat saja," terang Ridwan.
Ridwan mengatakan, dengan kejadian seperti saat ini, justru bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat membuat gerakan boikot minyak goreng.
Ridwan juga menyayangkan minyak goreng saat ini harganya jauh lebih mahal dari sebelumnya karena permainan para mafia yang sengaja menimbun minyak goreng untuk keuntungan pribadi.
"Kalau memang minyak goreng ada, tapi mahal, ya sudah sekalian kita ramai-ramai boikot minyak goreng. Masyarakat tidak perlu beli mingak goreng. Toh! Tanpa minyak goreng kita masih bisa hidup. Nanti biar mereka 'pengusaha' yang pusing, karena produk minyaknya diboikot karena tidak ada yang beli," ujar Ridwan.
Berkaca pada Jepang, Ridwan menyebut, negara Sakura ini justru dikenal masyarakat tidak suka makanan yang digoreng, mereka lebih suka dengan makanan yang direbus.
"Kalau Jepang negara yang jauh lebih maju dari kita saja juga bisa, mengapa kita tidak," tandasnya.
Karena itu, Ridwan melanjutkan, baik pengusaha atau oknum pemerintah yang telah bermain dalam kelangkaan minyak goreng hingga mahal, maka sama saja tidak punya jiwa nasionalisme karena telah membuat masyarakat kecil semakin susah.
"Mereka sudah tidak punya empati dengan nasib masyarakat kecil," tuturnya.
Untuk itu, dengan ajakan Megawati kepada masyarakat untuk untuk tidak ketergantungan dengan minyak sawit, Ridwan sangat setuju agar BRIN bersama Dirjen IKM Kementerian Perindustrian membuat pelatihan membuat minyak goreng dari kelapa atau tumbuhan lain sesuai ke khasan dari daerah masing-masing.
"Kalau pun kita butuh minyak goreng, tidak harus dari sawit. Dirjen IKM Perindustrian bisa membuat pelatihan home industri untuk membuat minyak dari pohon kelapa. Atau dari tumbuhan lain, sesuai khas daerahnya masing-masing