Kabargolkar.com - Partai Golkar menyoroti usulan Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob, yang mengusulkan bahasa Melayu dijadikan bahasa kedua di ASEAN.
Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP Partai Golkar Hetifah Sjaifudian menegaskan, bahasa Indonesia dinilainya lebih layak menjadi bahasa ASEAN.
"Menurut saya, bahasa Indonesia lebih layak sebagai bahasa ASEAN," kata Hetifah saat dikonfirmasi wartawan, belum lama ini.
Ada beberapa alasan yang disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR Ini, mengenai usulannya itu.
Salah satu alasannya, jumlah penduduk Indonesia lebih banyak dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
"Selain jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih banyak, saat ini hanya Indonesia yang menjadi satu-satunya negara G20 di ASEAN," ucap Hetifah.
Hetifah mengungkapkan alasan lainnya, mengapa bahasa Indonesia layak menjadi bahasa kedua ASEAN. Alasan itu adalah ekonomi Indonesia sangat berkembang.
"Selain itu, ekonomi Indonesia sangat berkembang. Jadi seharusnya bahasa yang digunakan dalam keperluan diplomasi ASEAN adalah bahasa Indonesia," tutup Hetifah.
Diberitakan sebelumnya, PM Malaysia Ismail Sabri Yaakob menyebut Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) setuju memperkuat bahasa Melayu yang diharapkan Sabri menjadi bahasa resmi kedua ASEAN.
Ismail Sabri Yaakob menjelaskan bahasa rumpun Melayu digunakan di Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand selatan, etnis Champa di Kamboja, Filipina, dan Singapura.
Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi menjelaskan Malaysia baru sebatas menyampaikan usulan ke RI, persetujuan belum diputuskan RI.
"PM Malaysia menyampaikan usulan tersebut, yang tentunya masih memerlukan kajian dan pembahasan lebih lanjut," kata Menlu RI Retno Marsudi dalam keterangannya pernya, Jumat (1/4/2022).
"Kalau dilihat dari sisi penutur (demografi), bahasa Indonesia adalah bahasa dengan penutur terbesar di Asia Tenggara," kata Retno.