Kabargolkar.com - Politisi Partai Golkar yang juga pimpinan di Pengurus Besar Nahdatlul Ulama (PBNU), Nusron Wahid menegaskan, tradisi kaum sholihin, suluak, harus terus dilestarikan.
Diketahui, tradisi suluak itu merupakan ciri khas Nahdlatul Ulama (NU) yang semakin sedikit diminati.
"Revitalisasi tradisi lama ini merupakan suatu yang baik, namun bukan anti pada hal baru. Belakangan banyak kesalahan terjadi, tradisi lama selalu digugat karena silau pada hal yang baru," kata Wakil Ketua PBNU ini saat melantik cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar, beberapa waktu lalu.
"Banyak yang silau dengan pemahaman baru dan menganggap semuanya yang baru itu baik," sambungnya.
Oleh sebab itu, anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini mengimbau, agar seluruh pengurus PCNU Kabupaten Pasaman untuk mengingat pentingnya pengaderan.
"Jenis pengaderan yang ditanamkan kepada generasi muda Nahdliyin yakni kemampuan keagamaan, kepakaran dalam birokrat, kepemimpinan dan politik," ujarnya.
Soal politik ini, Nusron mengingatkan agar warga NU tidak apriori. Menurutnya, warga NU harus dibebaskan belajar dan masuk ke dalam partai mana saja yang ada di Indonesia.
"Politik bagian dari kesalehan karena khidmat warga NU untuk menyejahterakan rakyat dan wawasan kebangsaan," ungkapnya.
"Pengurus PCNU Kabupaten Pasaman Barat harus memperdayakan potensi warga dan masyarakat sekitar," sambungnya.
Misalnya, lanjut Nusron, melibatkan masyarakat dalam hal yang mampu membangkitkan perekonomian.
"Semua organisasi akan sulit berjalan kalau tidak ada kemandirian ekonomi. Saya berharap PCNU Pasaman Barat tidak menerapkan tangan di bawah," bebr Nusron.
Kedepannya, PBNU berencana melakukan mengembangkan perekonomian kerakyatan, khusus untuk petani kelapa sawit dengan memberikan biaya peremajaan (replanting), pembangunan pabrik kelapa sawit, dan koperasi petani sawit NU di Pasaman Barat, Pasaman, Agam dan sekitarnya.
"ini baru wacana, semoga bisa terlaksana," tutup Nusron.