Untuk itu, ia meminta kepada pihak rumah sakit, saat perekrutan tenaga kesehatan, dapat memberikan bimbingan khusus atau pelatihan pelayanan terlebih dahulu.
“Sebenarnya, Soedarso ini termasuk rumah sakit yang dari dulu memang sudah memberikan banyak pelayanan kesehatan, cuma banyak dikritikan, itukan soal tenaga medisnya. Itu yang harus benar-benar perlu ditingkatkan. Saya pikir Pemerintah Provinsi, stakeholder rumah sakit, harus benar-benar mencari jalan keluar terbaik, kalau perlu ada bimbingan khusus terkait hal itu. Saat rekrutmen tenaga medis ini harus benar-benar diperhatikan,” ungkap Heri.
“Rumah sakit pemerintah ini kan yang banyak dikeluhkan, terkait sumber daya manusianya. Di Jakarta itu padahal banyak rumah sakit yang bagus, memadai, tetapi kenapa orang mesti ke Jerman, Amerika atau Kuching, Malaysia, itu tadi, karena faktor manusia yang memberikan pelayanan itu dirasakan oleh pasien tidak memberikan sesuatu yang membuat pasien lebih enak, nyaman, merasa diperhatikan. Sentuhan secara psikologi itu akan sangat baik, membantu pasien untuk cepat sembuh,” imbuhnya.
Heri berharap setelah diresmikannya Tower A dan B RSUD dr. Soedarso, masyarakat yang akan berobat kesana dapat dilayani dengan baik. Serta pasien yang berdatangan untuk berobat dari berbagai kalangan tidak dipandang sebelah mata oleh tenaga kesehatan.
“Doronglah SDM-nya ini supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi, bagaimana orang datang ke situ dianggap sebagai keluarga. Jangan sampai diperlakukan berbeda. Karena yang datang ke situ orang yang benar-benar sakit, butuh diberikan selain obat-obatan dan pelayanan medis juga butuh dorongan psikologis, agar cepat mendapat kesembuhan,” pungkasnya.