Kabargolkar.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudin merasa sedih dan turut prihatin, terhadap ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi korban penipuan, dengan modus pencarian dana melalui aplikasi pinjaman online (pinjol).
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar ini menegaskan, pentingnya literasi keuangan dan digital yang perlu ditingkatkan pemerintah pusat.
Menurut Hetifah, kondisi masyarakat saat ini sudah darurat literasi keuangan, dan perlu langkah cepat dari pemerintah.
"Hal ini menegaskan masyarakat kita darurat literasi keuangan dan literasi digital. Literasi keuangan dan literasi digital di kalangan masyarakat masih harus ditingkatkan,” kata Hetifah saat dihubungi wartawan, Rabu (16/11/2022).
Tak hanya itu, Hetifah juga menyoroti sisi lain perlu dipahami, terkait adanya kemungkinan keluarga mahasiswa di masa Covid-19 yang ekonominya merosot.
"Hal itu yang membuat perlunya bantuan pinjaman. “Tentu hal ini harus kita benahi. Saya mendesak literasi keuangan dan digital, utamanya bagi kalangan pemuda,” ucap Hetifah.
Lebih lanjut, ia merasa perlu dukungan kredit murah bagi mahasiswa yang diiringi dengan asesmen mendalam.
"Dengan begitu, uang pinjaman dapat digunakan untuk hal-hal primer dan bukan untuk sekedar memenuhi gaya hidup," tutup Hetifah.
Sebelumnya, sebanyak 126 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) jadi korban penipuan melalui modus pencarian dana melalui aplikasi belanja dengan membayar menggunakan pinjol.
Mereka kemudian melaporkan penipuan yang dilakukan pemilik toko ke Polresta Bogor Kota.
"Kita yang lapor 11 orang kemarin ke polisi dari kelompok kita. Peristiwanya ada yang di Kabupaten ada yang di Kota Bogor. Kita laporan di Polresta," kata Silvia Nuraeni, mahasiswa IPB yang menjadi korban saat diwawancarai, Senin (14/11/2022).
Silvia menceritakan, penipuan ini berawal saat mahasiswa hendak mencari sponsor untuk kegiatan mahasiswa.
Mahasiswi kemudian dikenalkan seniornya yang diduga salah satu pelaku bernama Aisyah.
Syaratnya mau beri uang cuma-cuma dengan syarat membeli barang di toko miliknya yang tersedia berbagai platform E-commerce seperti Shopee, Tokopedia,Bukalapak, Akulaku.
“Ditawarin proyek sama kakak leting kita yang agar ikut proyek ini uangnya lumayan. Kita dikenalin sama pelaku ini namanya Aisyah. Dan, kita ketemuan dengan Aisyah," kata Silvia.
Dia mengatakan, dirinya dibuatkan akun pinjaman online yang terhubung ke e-commerce. Kemudian, membeli sebuah laptop. Alamat penerima laptop diatur oleh Aisyah. Dari transaksi dirinya dijanjikan uang 10 persen.
“Tata caranya cara membayarnya. Kita diarahin buat membeli barang dia, akun Shopee (yang membayarnya melalui aplikasi pinjol). Jadi, kalau misalnya pinjaman buat belanjanya Rp3 juta, saya dapat Rp300 ribu. Uang Rp300 ribu itu juga dipakai buat mendanai kegiatan mahasiswa," ujarnya.