Jakarta, 7 Juli 2026 — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik, mendukung langkah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang memilih menyelesaikan uji coba tahap ketiga teknologi Compressed Natural Gas (CNG) sebelum diterapkan secara luas. Menurutnya, kehati-hatian tersebut merupakan keputusan yang tepat mengingat aspek keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap inovasi energi.
Jamaludin mengatakan, pengembangan CNG memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Namun demikian, penerapannya harus didasarkan pada hasil uji teknis yang benar-benar memenuhi standar keamanan dan keandalan.
"Saya mengapresiasi langkah Menteri ESDM yang tidak terburu-buru mengambil keputusan. Uji coba yang dilakukan secara bertahap menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama sebelum teknologi ini diterapkan secara luas," ujar Jamaludin.
Ia menilai, apabila hasil uji coba memberikan hasil yang positif, CNG dapat menjadi salah satu alternatif energi yang mampu memanfaatkan potensi gas bumi domestik secara lebih optimal. Dengan cadangan gas yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Menurut Jamaludin, pengembangan CNG juga perlu disertai dengan kesiapan infrastruktur, standar keselamatan, sistem distribusi, serta edukasi kepada masyarakat agar implementasinya dapat berjalan efektif dan mendapat kepercayaan publik.
"Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh teknologinya, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur, distribusi, regulasi, dan edukasi kepada masyarakat. Karena itu, setiap tahapan harus dipersiapkan secara matang," tegas legislator asal dari pemilihan Jawa Tengah II itu.
Sebagai mitra kerja Kementerian ESDM, Komisi XII DPR RI akan terus mendukung berbagai inovasi di sektor energi yang mampu meningkatkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor energi, serta memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan.