Jakarta, 8 Juli 2026 — Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Yulisman, mengapresiasi langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia beserta jajaran yang mengedepankan kepentingan nasional dalam proses negosiasi kerja sama ekspor listrik hijau antara Indonesia dan Singapura. Menurutnya, kehati-hatian pemerintah dalam menetapkan skema kerja sama, termasuk terkait harga listrik, merupakan langkah yang tepat agar manfaat yang diperoleh Indonesia dapat optimal.
Menurut Yulisman, kerja sama tersebut merupakan peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat energi bersih di kawasan ASEAN. Namun, keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari besarnya ekspor listrik, melainkan juga dari kemampuannya mendorong investasi, pengembangan industri hijau, transfer teknologi, penguatan rantai pasok nasional, serta penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
"Saya mengapresiasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beserta seluruh jajaran yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam proses negosiasi. Kerja sama ini harus memberikan manfaat yang seimbang bagi kedua negara, namun yang paling penting adalah mampu menghadirkan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Indonesia," ujar Yulisman.
Legislator asal Daerah Pemilihan Riau II itu menambahkan, hasil Leaders' Retreat Indonesia–Singapura pada 6 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi percepatan kerja sama energi kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman proyek interkoneksi listrik lintas batas menunjukkan bahwa kerja sama mulai memasuki tahap implementasi, dengan target pengembangan ekspor listrik rendah karbon hingga 3,4 gigawatt (GW) pada 2035.
Menurut Yulisman, Indonesia tidak boleh hanya berperan sebagai pemasok energi bersih. Kerja sama tersebut harus menjadi katalis bagi tumbuhnya industri manufaktur energi bersih, pengembangan kawasan industri hijau, hilirisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia juga mendukung langkah pemerintah yang mengintegrasikan kerja sama ekspor listrik hijau dengan pengembangan kawasan industri berkelanjutan dan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat ekosistem transisi energi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi sektor energi bersih.
"Saya optimistis, dengan negosiasi yang dilakukan secara cermat oleh Menteri ESDM beserta jajaran, Indonesia akan memperoleh skema kerja sama yang saling menguntungkan. Ekspor listrik hijau harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mempercepat hilirisasi industri hijau, menarik investasi berkualitas, serta menjadikan Indonesia sebagai pemain utama energi bersih di kawasan ASEAN," tutup Yulisman.