Kemendes PDT dapat memperkuat kapasitas desa penyangga, sedangkan Kementerian Transmigrasi perlu memastikan pembangunan kawasan mempertimbangkan risiko kebakaran. Basarnas juga harus didukung untuk meningkatkan kesiapan pencarian, pertolongan, dan evakuasi masyarakat.
“Anggaran pembangunan tidak boleh hanya diukur dari berapa kilometer jalan atau berapa banyak proyek yang selesai. Kita juga harus bertanya: seberapa besar pembangunan tersebut membuat masyarakat lebih aman menghadapi bencana?” tegasnya.
Dari Peta Risiko Menuju Peta Kapasitas
Aprozi mendorong setiap daerah rawan karhutla tidak hanya mempunyai peta risiko, tetapi juga peta kapasitas yang dapat digunakan sebagai pedoman operasional.
Peta tersebut harus memuat lokasi sumber air dan pompa, ketersediaan serta panjang selang, kondisi akses jalan, posisi personel dan peralatan, perkiraan waktu respons, titik logistik, serta desa-desa yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi.
“Ketika hotspot muncul, pemerintah tidak boleh lagi sibuk mencari sumber air, personel, atau akses menuju lokasi. Sistemnya harus sudah siap bekerja,” ujarnya.
Kepada peserta GIS, Aprozi juga mengajak generasi muda berperan mengembangkan gagasan dan kebijakan mitigasi berbasis data, teknologi, serta kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya diukur dari banyaknya helikopter yang diterbangkan atau luas api yang berhasil dipadamkan setelah bencana terjadi.
“Keberhasilan terbesar adalah ketika api ditemukan lebih cepat, air tersedia lebih dekat, petugas tiba lebih cepat, masyarakat terlindungi, dan api tidak sempat berkembang menjadi bencana. Itulah makna Siaga Sebelum Asap,” kata Aprozi.
“Infrastruktur tidak hanya membangun konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur juga harus membangun keselamatan dan ketahanan masyarakat. Api tidak mengenal batas kementerian, asap tidak mengenal batas daerah, dan bencana tidak menunggu birokrasi selesai berkoordinasi. Karena itu, negara harus hadir sebelum asap terlihat,” pungkasnya.