Jakarta – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Hanan A
Rozak, mengapresiasi langkah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam mendorong transformasi sektor pertanian selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penguatan mekanisasi, penyediaan sarana produksi, serta kebijakan untuk menjaga kepastian harga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan semangat petani dalam mendukung swasembada pangan nasional.
Apresiasi tersebut disampaikan Hanan dalam diskusi publik Agripulse bertajuk Dua Tahun Transformasi Pertanian Era Prabowo di Jakarta, Rabu (21/10/26). Ia menilai modernisasi melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan sektor pertanian, terutama keterbatasan tenaga kerja dan kebutuhan meningkatkan efisiensi produksi.
“Pak Menteri kita ini luar biasa. Dari tahun 2014 memberi perhatian kepada mekanisasi. Wajar kita sebut sebagai Bapak Modernisasi Pertanian. Saya beri apresiasi kepada beliau,” kata Hanan.
Menurut Hanan, perubahan yang terjadi di sektor pertanian merupakan hasil dari berbagai kebijakan yang menyasar sejumlah aspek produksi. Upaya tersebut meliputi perluasan areal tanam, pembenahan jaringan irigasi, penyediaan benih dan pupuk, serta pengembangan mekanisasi untuk mendukung kegiatan usaha tani.
Berbagai intervensi tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan. Dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, petani diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi sekaligus menghadapi tantangan perubahan kondisi sektor pertanian.
Hanan juga mengapresiasi kemampuan Mentan Amran dalam meyakinkan Presiden Prabowo untuk memberikan perhatian dan dukungan anggaran yang lebih besar terhadap sektor pertanian. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan agenda penguatan kedaulatan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam Asta Cita.
Mekanisasi, Irigasi, dan Pupuk Perkuat Produktivitas
Hanan menjelaskan, dukungan pemerintah terhadap pertanian telah diwujudkan melalui sejumlah program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan petani. Salah satunya adalah peningkatan luas panen padi dari sekitar 10 juta hektare pada 2024 menjadi 11 juta hektare pada 2025.
Peningkatan tersebut didukung oleh upaya perbaikan infrastruktur irigasi dan penyediaan sarana produksi. Menurutnya, pembenahan jaringan pengairan, termasuk saluran tersier yang berdekatan dengan lahan pertanian, sangat penting untuk menjamin ketersediaan air bagi petani selama proses budidaya.
Selain infrastruktur, Hanan memberikan perhatian terhadap pembenahan tata kelola pupuk bersubsidi. Kemudahan memperoleh pupuk dengan harga terjangkau, jumlah yang sesuai kebutuhan, serta distribusi tepat waktu dinilai membantu petani menjalankan kegiatan produksi dengan lebih baik.
Ia menilai penyederhanaan regulasi menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi hambatan distribusi pupuk yang selama ini dihadapi petani.
“Luar biasa ini. Ini baru terjadi. Pupuk mudah diperoleh dengan penyederhanaan regulasi. Bisa diperoleh tepat waktu, tepat jumlah, harga terjangkau oleh masyarakat,” ungkapnya.
Hanan juga menekankan pentingnya mekanisasi untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian. Di tengah meningkatnya usia rata-rata petani dan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja, penggunaan alat dan mesin pertanian menjadi kebutuhan untuk menjaga efisiensi proses produksi.
Modernisasi melalui mekanisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda