Bahlil juga mendorong agar nikel Indonesia semakin berperan dalam rantai pasok industri hijau global. Upaya tersebut akan diperkuat melalui pembangunan fasilitas industri di dalam negeri sehingga pengolahan sumber daya mineral tidak berhenti pada tahap bahan mentah atau produk antara.
Meski demikian, ia menekankan bahwa peningkatan aktivitas pertambangan harus disertai kepatuhan terhadap berbagai kewajiban. Hal itu mencakup pemenuhan kebutuhan dalam negeri, pelaksanaan reklamasi lahan pascatambang, serta penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja.
Secara keseluruhan, investasi di sektor ESDM sepanjang 2025 tercatat mencapai 31,97 miliar dolar AS. Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat pengembangan sektor energi dan sumber daya mineral pada tahun-tahun berikutnya.
"Capaian ini adalah fondasi, bukan garis akhir," ujar Bahlil.
Jajaran ESDM Diminta Fokus pada Hasil Nyata
Untuk merealisasikan target PNBP sebesar Rp165 triliun, Bahlil meminta seluruh jajaran di lingkungan sektor ESDM meningkatkan kinerja dan memastikan setiap program berjalan sesuai sasaran.
Ia menekankan pentingnya integritas, keberanian dalam mengambil keputusan, serta konsistensi dalam menyelesaikan berbagai target yang telah ditetapkan.
Menurut Bahlil, keberhasilan program pemerintah tidak cukup diukur dari penyusunan rencana maupun pencapaian administratif. Setiap kebijakan harus dilaksanakan secara konkret agar memberikan hasil yang dapat dirasakan, terutama dalam meningkatkan penerimaan negara dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam nasional.
Dengan memperkuat tata kelola pertambangan, meningkatkan kinerja sektor migas, serta mempercepat hilirisasi mineral, pemerintah berharap sektor ESDM dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan negara sekaligus mendorong pertumbuhan industri nasional.