Konsep kegiatan memang diarahkan agar seni tari tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif. Proposal juga menempatkan nilai budaya, sosial, dan ekonomi sebagai hasil yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.
Adela juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan generasi muda dalam pelestarian kebudayaan.
Menurutnya, salah satu tantangan kebudayaan Indonesia adalah memastikan generasi berikutnya tidak hanya mengenal budaya melalui buku atau media sosial, tetapi memiliki pengalaman langsung dalam mempelajari, menyaksikan, dan menciptakan karya seni.
“Kita ingin anak-anak muda merasa bahwa belajar tari, musik, seni pertunjukan, dan kebudayaan Indonesia adalah sesuatu yang membanggakan. Jangan sampai generasi berikutnya menjadi asing terhadap kebudayaannya sendiri,” tegasnya.
Karena itu, kegiatan kebudayaan di daerah menurut Adela perlu semakin banyak membuka ruang partisipasi bagi pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, serta generasi muda.
Semarak Budaya di Surabaya diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.
Konsep program menempatkan pelestarian dan regenerasi kebudayaan, penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis lokal, penguatan jejaring kebudayaan lintas daerah, peningkatan akses masyarakat terhadap kebudayaan, serta pengembangan kegiatan kebudayaan yang terintegrasi sebagai dampak strategis yang ingin dicapai.
Adela berharap kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, DPR RI, pemerintah daerah, sanggar seni, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat dapat terus diperkuat.
“Dari Surabaya kita ingin menunjukkan bahwa kebudayaan akan kuat apabila tumbuh bersama masyarakat. Pemerintah memberikan dukungan, sanggar melakukan pembinaan, seniman terus berkarya, generasi muda terlibat, dan masyarakat memberikan apresiasi,” ujar Adela.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus menyerap aspirasi para pelaku budaya, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo, sehingga kebutuhan nyata yang mereka hadapi dapat menjadi perhatian dalam kebijakan kebudayaan di tingkat nasional.
“Saya ingin semakin banyak sanggar mendapatkan ruang untuk berkembang, semakin banyak seniman memiliki panggung untuk berkarya, dan semakin banyak anak muda yang bangga terhadap budaya Indonesia. Karena ketika kita menjaga kebudayaan, sesungguhnya kita sedang menjaga identitas bangsa,” pungkas Adela.