Rancangan besar atau grand desain ekonomi Bali yakni pertama, melestarikan dan memperkuat sektor primer berbasis sumber daya alam dan budaya Bali. Kedua, memperbesar dan memperluas industri sektor sekunder dengan hilirisasi sektor primer.
"Ketiga, mewujudkan koperasi pariwisata sebagai rumah besar bersama seluruh 326 ribu lebih UMKM dan 4.800 lebih koperasi se-Bali," papar Nurdin Halid.
Sementara itu Direktur Undiknas Graduate School Prof Gede Sri Darma yang juga jadi salah satu narasumber dalam webinar ini menyampaikan ada tiga hal utama yang diperhatikan terkait strategi pemulihan sektor industri dan UMKM Bali.
Pertama bagaimana pemulihan sektor industri dan UMKM itu sendiri. Kedua, bagaimana agar pendapat dan daya beli masyarakat meningkat. Ketiga, mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Dalam hal pemulihan sektor industri dan UMKM Bali ada beberapa strategi yang bisa dilakukan. Pertama, perkuat koperasi & UMKM, dengan menstimulus dan subsidi bunga kredit serta memberlakukan kebijakan restrukturasi kredit / angsuran.
Kedua, buka lapangan kerja bidang pertanian, karena sektor pertanian yang paling minim terdampak Covid-19. "Ini menjadi momentum merevitalisasi ekonomi pedesaan," tegas Prof Sri Darma.
Ketiga, para pengusaha dan masyarakat agar memanfaatkan stimulus dan mendorong pengusaha untuk melakukan inovasi dan shifting kepada e-commerce atau perdagangan elektronik disertai dengan pelatihan yang aplikatif.
Selanjutnya untuk untuk meningkatkan pendapat dan daya beli masyarakat ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan. Pertama, mendorong daya beli dengan lebih meningkatkan bantuan sosial, baik secara tunai maupun dalam bentuk sembako.
Kedua, realokasi anggaran prioritaskan untuk program terkait penanggulangan Covid-19 serta tingkatkan belanja pemerintah guna menggerakan roda ekonomi.
Ketiga, pemerintah perlu menyiapkan stimulus APBD yang pemanfaatannya pararel dengan dana desa, khususnya program padat karya tunai.
Begitu pula perlu strategi tepat menekan angka pengangguran dan kemiskinan di tengah pandemi Covid-19 saat ini.
Pertama, bantuan Permodalan Bagi BUMDES berupa stimulus modal pemulihan desa wisata dan mendorong pemanfaatan dana desa untuk program produktif.
Kedua, karyawan yang dirumahkan mendapat jaring pengaman sosial dan kartu pra-kerja. "Selain itu pemerintah daerah perlu menerbitkan obligasi daerah guna membiayai proses recovery pandemi Covid-19," tandas Prof Sri Darma.
Pembicara selanjutnya Direktur Badan Pengelola Usaha Universitas Udayana Dr. Sayu Ketut Sutrisna Dewi memaparkan bagaimana strategi UKM (Usaha Kecil Menengah) menghadapi New Normal.
Menurutnya dalam kondisi saat ini, pelaku UKM wajib memahami kebijakan pemerintah. "Dalam praktiknya UKM tidak mau baca berita, karena nervous, tapi mau tidak mau harus ikuti perkembangan terkini dan kebijakan pemerintah," ungkap Sutrisna Dewi.
UKM juga harus mengenali karakteristik dan kondisi konsumen dan perubahan perilaku konsumen. Lalu ada cara baru berinteraksi dengan konsumen (hindari kontak fisik, belanja secara online, cara pembayaran online).
UKM juga harus mampu memerkuat customer relationship dan perluas jangkauan pasar melalui digital marketing dan pertajam value proposition.
"Lakukan transformasi secara proaktif, adaptif dan responsif terhadap perubahan. Tetap optimis, dibalik musibah ada berkah, dibalik perubahan ada peluang," tandasnya.