Kabargolkar.com - Partai Golkar masih membidik posisi Calon Bupati (Cabup) di Lombok Tengah (Loteng). Munculnya HM Nursiah sebagai Bakal Calon Wakil Bupati (Bacabup) dari Golkar untuk dampingi HL Pathul Bahri dari Gerindra baru sebatas wacana.
Paket Pathul-Nursiah belum jadi keputusan final di DPP Partai Golkar. “Saya fikir kesempatan (golkar di posisi satu) masih tetap terbuka,” kata Koordinator Daerah (Korda) Loteng, DPD Partai Golkar NTB HL Satriawandi, Kamis (24/6/2020).
Peluang kocok ulang terbuka lebar. Kunci utama di hasil survei yang tengah dilakukan partai Golkar pada semua Bapaslon Bupati Loteng saat ini. “Kuncinya ya di hasil survei nanti,” tegasnya.
Usai tiga figur dari Yayasan Attohiriyah Al Fadiliyah (Yatofa) Bodak undur diri, beberapa nama kader Golkar sempat muncul dan digadang-gadang potensial bertarung di Loteng. Diantaranya HL Wireginawang, H Misbach Mulyadi, H Kelan, sampai Satriawandi.
Tetapi figur itu entah karena sebab apa belakangan tenggelam. Ramainya kabar Golkar NTB mendorong Nursiah membuat Nursiah seakan telah kantongi SK partai.
Menanggapi namanya ikut didorong maju, Satriawandi mengatakan sedari awal tidak berniat ikut Pilbup. “Jauh-jauh hari sudah saya sampaikan permohonan maaf saya pada partai tidak akan ikut,” ungkapnya.
Namun demikian, survei partai Golkar tidak hanya untuk pasangan Pathul-Nursiah. “Tetapi semua Bapaslon yang ada sekarang dan pernah daftar di Golkar itu semua disurvei,” terangnya.
Survei secara normatif memberi padangan bagi partai beringin. Sebelum memutuskan menentukan arah dukungan politik. Sikap terbuka partai Golkar, membuka kesempatan ke salah satu figur yang juga mengikuti tahapan di partai Golkar yakni H Masrun.
Satriawandi pun membenarkan bahwa nama Masrun salah satu yang disurvei. “Semua disurvei figur internal dan luar,” tegasnya.
Dari sisi keuntungan politik, Masrun berpeluang dikaderkan karena dari kalangan non partisan. Mendukung Masrun menghindarkan Golkar jatuh di posisi dua. Setelah puluhan tahun merajai politik Loteng.
Begitupun figur non partisan lain seperti H Dwi Sugianto yang juga mendaftar di Golkar. Tetapi pada akhirnya hasil survei akan mementukan apakah Masrun atau Dwi layak mewakili Golkar. “Intinya kita tunggu hasil survei dan saat DPP memutuskan kami pasti akan dipanggil untuk mendengar hasilnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat Politik UIN Mataram Dr Kadri menilai nada-nada Golkar memilih di posisi dua dalam Pilbup Loteng dianggap lumrah dalam politik. “Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik,” katanya.
Dalam kontestasi Pilbup petarung utamanya bukan partai politik. “Tapi figur,” tegasnya.
Alasan realistis saat Golkar menurunkan daya tawar politik. Begitu mengetahui figurnya di bawah Gerindra. “Posisi nomor dua sangat realistis,” ulasnya.
Walaupun dalam sejarah Golkar di Loteng selalu tampil di depan. Tetapi bukan jaminan dominasi Golkar akan selalu abadi. “Politik tidak terkait dengan sejarah, tetapi politik selalu merujuk pada realitas politik kekinian,” ulasnya.
Citra Golkar selalu di muka di Loteng dinilai keliru. “Stigma itu sesat karena politik itu targetnya menang,” pungkasnya. [Lombokpost]