kabargolkar.com - Taufan Pawe, Wali Kota Parepare sekaligus Ketua DPD II Golkar
Parepare terpilih aklamasi sebagai Ketua Golkar Sulsel menggantikan AM Nurdin Halid.
TP, akronim namanya, disepakati pada musyawarah calon Ketua Golkar Sulawesi Selatan yang dilakukan bersama Supriansa Mannahawu, Syamsuddin A Hamid, dan Hamka B Kady pada Musyawarah Daerah ( Musda ) Golkar Sulsel, Sabtu (08/08/2020) dinihari.
Pertemuan empat calon tersebut disaksikan NH. Supri lalu ditunjuk sebagai juru bicara mewakili tiga kandidat lainnya. “Kami sepakati Taufan Pawe,” kata Supriansa.
Menurutnya, musda sudah berlangsung dan telah berlalu. “Memuaskan dalam pandangan kami, arahan Pak NH sangat konstruktif dan itu yang kami genggam. Musda kali ini tidak dilakukan voting dan kita berada di level tertinggi yaitu bermusyawarah,” jelas Supriansa.
Meski musda sempat berlangsung alat bahkan hampir deadlock.
Jalannya Musda
Sebelumnya, empat nama bakal calon Ketua DPD I Golkar Sulsel dikirim ke Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto. Mereka M Taufan Pawe, Supriansa, Syamsuddin A Hamid, dan Hamka B Kady.
Empat nama tersebut dikirim ke Airlangga setelah tidak ada keputusan mufakat pada musda yang digelar di Ballroom The Hotel Sultan, Jakarta Pusat.
“Empat nama yang dibawa ke ketua umum untuk diputuskan satu nama,” kata Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi Muhidin M Said kepada Tribun. Muhidin didampingi Ketua DPP Golkar Bidang Industri Erwin Aksa.
“Jadi semua akan menerima siapapun diputuskan ketua umum,” ujarnya. Empat bakal calon ketua tersebut dinyatakan lolos sebagai calon. Jika sesuai aturan main, maksimal hanya tiga calon berhak bertarung.
Namun keempatnya diloloskan atas pertimbangan mantan Ketua DPD Golkar Sulsel Nurdin Halid pada forum Musda Golkar Sulsel. Tawaran NH tersebut juga disetujui seluruh peserta musda.
“Karena ada lima azas di Partai Golkar. Asas demokrasi, Pancasila, dan kekeluargaan-kegotongroyongan. Asas ini yang kita gunakan. Kedua, dalam proses pengambilan keputusan, diprioritaskan musyawarah mufakat. Jadi ini tidak ada yang dilanggar,” jelasnya.
Meloloskan empat bakal calon menjadi calon tersebut, kata NH, bukan berarti mengabaikan peraturan organisasi (PO) dan petunjuk pelaksanaan (juklak) Partai Golkar tentang musda. “Tapi PO 02 kita gunakan, kita letakkan dalam anggaran dasar. Di sana disebutkan, boleh mengambil keputusan dengan musyawarah-mufakat. Itulah saya lempar di forum, bagaimana empat bakal calon ini, kita tetapkan sebagai calon. Dan itu disetujui,” katanya.
Meloloskan empat bakal calon ini tersebut juga bukan berarti mengabaikan syarat pencalonan setiap bakal calon. Termasuk jumlah syarat dukungan dari pemilik suara. “Tidak diabaikan. Kenapa, karena ada diskresi ketum.
Itulah kemudian, ada diskresi ketua umum, ada kesepakatan musyawarah peserta Musda. Maka ada empat calon,” jelas NH yang juga Wakil Ketua Umum DPP Golkar tersebut. Selanjutnya, empat nama calon dikonsultasikan ke Airlangga. Airlangga bisa memutuskan satu nama memimpin Golkar Sulsel atau lanjut melalui pemilihan.
Sebelumnya, NH berharap ketua terpilih aklamasi melalui musyawarah mufakat. Dia ingin mengakhiri jabatannya sebagai pelaksana tugas melalui musyawarah untuk mufakat.
“Sekiranya empat orang ini bisa bermufakat akan lebih baik. Boleh saja ada persaingan, tapi tidak boleh ada perpecahan. Mufakat yah, empat orang ini duduk bersama yah. Saya ingin akhiri ini dengan baik karena itu saya percepat musda,” kata NH