Kabargolkar.com - Mantan Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung Subhan menyatakan, jelang Pemilu 2024 mendatang,
semua partai politik memiliki peluang yang sama untuk mengikuti pertarungan. Diharapkan dalam pertaruhan nama besar partainya itu meraih kemenangan.
"Termasuk Partai Golkar punya peluang yang sama untuk menang pada Pemilu 2024 mendatang," kata Subhan kepada wartawan di sebuah kedai kopi di Jalan Gading Tutuka Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung, Minggu 28 Maret 2021 malam.
Untuk meraih kemenangan itu, Subhan yang merupakan mantan LO-nya pasangan H. Dadang M. Naser-H. Gun Gun Gunawan pada Pilbup 2015 silam itu, dengan syarat Partai Golkar harus bisa menghadirkan caleg-caleg yang kredibel pada Pemilu 2024 mendatang.
"Artinya, para caleg itu harus punya basis massa dan punya finansial yang mumpuni, melebihi kapasitas caleg-caleg Partai Golkar pada Pemilu 2019 lalu. Sebab, beberapa mantan caleg Partai Golkar per hari ini ada yang sudah dipastikan pindah partai dan ada pula yang sedang dalam 'penjajakan' oleh beberapa partai," tandas Subhan, yang saat ini tidak masuk pada kepengurusan partai politik manapun.
Menurutnya, pindah partai politik di zaman demokrasi serba terbuka sekarang ini sudah menjadi hal yang biasa. "Saya mendengar (dan pernah ngobrol) ada beberapa mantan caleg Partai Golkar yang meraih suara besar di Dapil-nya, sudah didekati oleh beberapa partai, seperti oleh PKB, Nasdem, PKS, Gerindra dan Demokrat," ucapnya.
Apabila para mantan caleg Partai Golkar tersebut benar-benar pindah partai, imbuh Subhan, maka semakin berat pula langkah Partai Golkar Kabupaten Bandung dalam memenangkan Pemilu nanti. "Mereka jelas-jelas punya raihan suara, wajar didekati banyak partai, saya pun akan berpikiran sama," katanya.
Subhan menuturkan, keberadaan mereka jangan dipandang kecil dan jangan pula dianggap tidak ada apa-apanya sebab mereka telah membuktikan dalam Pemilu meraih suara yang banyak dan berani mengorbankan anggaran yang terbilang besar pula. "Sekalipun mereka 'tidak' ikut dilantik, tetapi kenyataannya suara mereka bisa melebihi suara caleg dari partai lain yang dilantik," ujarnya.
Ia mencontohkan di Dapil-4, ada caleg Partai Golkar yang meraih suara lebih dari 10.000 suara tapi tidak dilantik, bandingkan dengan caleg dari partai lain ada yang dilantik dengan meraih suara kurang dari 10.000 suara, dan terjadi juga di Dapil lainnya.
"Seumpamanya mantan caleg tersebut pindah ke partai lain, maka jangan berpikiran bahwa suara tersebut tetap 'diam' di Golkar, sangat dimungkinkan sebagian besarnya akan mengikuti figur tersebut. Kita memahami bahwa Pemilu sekarang 'jualannya' adalah figur, bukan lagi hanya sebatas nama besar partai," kata Subhan.
Biasanya, orang yang menganggap enteng kepada caleg/figur tersebut adalah orang-orang yang justru tidak pernah berani tampil maju menjadi caleg. Kalau yang pernah merasakan menjadi caleg (sekalipun tidak dilantik) tidak akan berani berkata demikian, karena pasti merasakan betul bagaimana berat dan capeknya menjadi seorang caleg mencari dukungan kepada masyarakat dengan berbagai tantangan-rintangan yang luar biasa.
"Paling tidak, berapapun raihan suaranya mereka mantan caleg punya jasa besar telah bersumbangsih dalam membesarkan Partai Golkar kemarin," tuturnya.
Kuncinya, lanjut Subhan, apabila mantan caleg/figur tersebut pindah partai, maka Partai Golkar ke depan harus menyiapkan caleg-nya, minimal setara dengan yang kemarin, atau mencari figur yang lebih segalanya dari caleg-caleg kemarin