Kabargolkar.com - Tiga Parpol (Golkar, PAN dan PPP) yang tergabung dalam
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) di Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan anggota Wantimpres Dr H Soekarwo, SH, MHum dengan tema ‘Kesiapan Indonesia dan Jawa Timur Menghadapi Krisis Pangan Global’ di kantor DPD Partai Golkar Jawa Timur, Selasa (21/6/2022) malam.
Ketua DPD Partai Golkar Jatim Sarmuji mengaku sengaja mengambil tema krisis pangan global karena fenomena tersebut sudah nyata di depan mata dialami berbagai negara di dunia baik negara maju, berkembang maupun negara miskin.
“Krisis pangan global ini persoalan yang sangat urgen dan emergency karena sudah dialami beberapa negara di dunia. Dan ke depan akan lebih sulit lagi dunia menghadapi tantangan ini sehingga Indonesia khususnya Jawa Timur harus mempersiapkan dengan baik,” kata anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI ini.
Ada beberapa penyebab terjadinya krisis pangan global. Sarmuji mencontohkan perubahan iklim sehingga di berbagai belahan dunia cuaca maupun musim sulit diprediksi.
“Kita bersyukur karena Indonesia tahun ini musim penghujannya sangat panjang sehingga panen beras melimpah bisa swasembada dan tidak sampai import. Tetapi kedepannya bisa saja justru musim kemaraunya menjadi sangat panjang sehingga produksi pangan turun drastis. Jadi kita harus siap dan melakukan antisipasi,” harapnya.
Sementara itu anggota Wantimpres Soekarwo membenarkan kalau negara tetangga seperti Srilangka telah mengalami kelaparan akibat terjadi krisis pangan. Bahkan negara-negara Eropa juga mengalami hal serupa akibat adanya perang antara Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan.
“Konflik perang berkepanjangan itu menyebabkan petani gandum di Rusia dan Ukrania tidak bisa menanam dan lahannya hancur. Negara-negara Eropa untuk memenuhi kebutuhan gandum biasanya disuplay dari kedua negara yang berperang tersebut, sehingga mereka juga mengalami krisis pangan,” beber mantan Gubernur Jatim ini.
Krisis pangan global, kata Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo memang semakin nyata dan terasa setelah munculnya perang Rusia-Ukraina. Bahkan semakin melebar menjadi krisis energi akibat harga sumber energi semakin mahal karena sulit didapat.
Padahal sebelumnya ancaman krisis pangan itu sudah diprediksi akan muncul akibat terjadinya perubahan iklim (climate change).
“Kalau kondisi pangan sulit, energi sulit maka larinya adalah menjadi tidak punya uang karena tidak ada transaksi (cas flow). Di Belgia dan Inggris warganya sampai demonstrasi karena harga kebutuhan pokok naik hingga 9 persen. Bahkan Fed Amerika sampai mengumumkan kenaikan suku bunga sebagai politik disponto untuk mengerem inflasi tapi tidak bisa,” beber Pakde Karwo.
Indonesia masih relatif aman karena ditolong daerah-daerah yang melimpah produksi pangan bukan hanya beras tetapi ada berupa sagu, jagung, cantel, ketela pohon dan lainnya yang bisa menjadi makanan pokok.
Kendati demikian, lanjut Pakde Karwo krisis pangan bukan otomatis bisa membuat nilai tambah petani (NTP) naik signifikan. Sebab mayoritas petani kita hanya buruh tani sehingga tidak ikut mendapatkan nilai tambah dari kenaikan harga pangan.
“NTP itu kemampuan seseorang petani tentang nilai tukarnya terhadap pangan