"Kesenjangan ekonomi ini tidak boleh kita abaikan begitu saja, karena jika merujuk pada survei Litbang KOMPAS, bahwa 19,2 persen terjadinya aksi radikalisme di Indonesia dipicu oleh faktor ekonomi," jelas Bamsoet.
Terkait kebhinekaan, Bamsoet menjelaskan, upaya merawat kemajemukan Indonesia harus dilandasi oleh kesadaran bahwa keberagaman adalah fitrah kebangsaan yang harus dijaga bersama. Di sisi lain, kebersamaan sebagai sebuah bangsa juga harus ditopang oleh pondasi yang mengakar kuat, agar tidak mudah goyah oleh berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.
Dalam konteks ke-Indonesiaan, pondasi tersebut mewujud pada sikap tenggang rasa dan semangat gotong royong. Sikap tenggang rasa adalah upaya menjaga perasaan, menempatkan situasi dan kondisi diri pada situasi dan kondisi yang dialami orang lain, sebagai cerminan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain.
"Sedangkan gotong royong adalah warisan kearifan lokal yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan mengedepankan kerjasama, tolong-menolong, bahu-membahu, serta menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan. Namun kita juga menyadari, bahwa kedua pondasi tersebut hanya akan benar-benar bermakna, ketika dimanifestasikan dalam tindakan nyata, dan tidak hanya berhenti pada sebatas ide dan gagasan," pungkas Bamsoet.