Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Ketua DPD Golkar Bali Sugawa Korry Sebut Bali Harus Maju Tapi Adaptif!
  Bambang Soetiono   31 Agustus 2023
I Nyoman Sugawa Korry. (Photo: Tribun Bali/Made Oka Putra Yasa)
Ketua pada saat itu, almarhum Bapak Kolonel Subandi meninggal.

Ketua Komisi B waktu itu Pak Made Mastra namanya, beliau Wakil Ketua di DPD Golkar Provinsi, beliau lah yang diangkat menjadi Wakil ketua oleh pimpinan partai. Berarti Ketua Komisi ini kosong, Komisi B. Tapi ternyata pimpinan partai itu menganggap saya mempunyai kemampuan. Jadi umur itu saya sudah dijadikan Ketua Komisi B.

Kemudian sampai Pemilu 1997, karena sudah berkiprah, nomornya nomor kecil, nomor 9. Kemudian 1997 pemilu, kemudian Golkar saya terpilih, dan ditetapkan sebagai Ketua Komisi C, bidang keuangan. Akhirnya reformasi tahun 1999. Jadi pemilihan baru saya tidak ikut, waktu tahun 1999 itu. Tidak ikut lagi di dalam pencalonan.

Kenapa nggak ikut?

Ya waktu itu saya berpikir situasinya sudah berubah dan kalaupun saya terpilih, tapi rasanya waktu itu akan sulit menyampaikan ide dan gagasan. Daripada kita tidak puas dalam melaksanakan tugas, lebih baik saya waktu itu meminta almarhum Pak Gintaran untuk mewakili Buleleng. Saya resign sampai 2009, 10 tahun. Tetap di Golkar. Sempat saya tidak lagi di pengurus (Golkar) karena saya ikut DPD tahun 2004 Itu kan ketat. Jadi calon DPD itu nggak boleh jadi pengurus.

Berarti Pak Ketua juga Sempat nyalon DPD ya? Keluar dari Golkar juga?

Keluar dari pengurus karena syarat utama Jadi calon anggota DPD itu adalah tidak boleh jadi pengurus. Dan itu dibuktikan secara tertulis. Saya ikut DPD tahun 2004. Saya waktu itu dapat suara nomor 6 kalau nggak salah dari 4 yang terpilih.

Jadi saya dapat sekitar 96 ribu, gagal. Pernah berhasil dengan mudah waktu tahun 1992 itu, kemudian gagal dengan susah payah. Kemudian setelah DPD, kemudian Musda di Golkar Bali, saya direkrut lagi menjadi pengurus, jadi Wakil Ketua 1 tahun 2004 sampai 2009.

2009 Saya ikut di calon di DPRD Provinsi, terpilih sampai dengan sekarang. Jadi tahun 2009 saya walaupun jadi Wakil Ketua 1 waktu itu, saya memang tidak menjabat. Apakah di komisi atau di fraksi. Sehingga, saya pakai kesempatan itu untuk melakukan peningkatan kualitas diri, saya ambil kuliah S3 di Brawijaya. Jadi 2013 Saya selesai.

2014 Pemilu, saya ikut di Provinsi, terpilih dan waktu itu juga akhirnya saya ditetapkan sebagai Wakil Ketua DPRD 2014 sampai 2019, dan Pemilu 2019 juga ditetapkan lagi sebagai Wakil Ketua DPRD sampai dengan sekarang. Musda 2020 kemarin, saya terpilih secara aklamasi Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali. Dan astungkara, sekarang juga saya sudah DCS baru ini, Pimpinan Golkar Pusat, DPP Partai Golkar, menempatkan saya, karena saya calon di DPR RI untuk DCS ini, saya nomor urut 1.

Pertimbangan Bapak bertarung di DPR RI?

Saya tidak ingin zona nyaman. Sebagai kader, apalagi sebagai Ketua Partai. Kalau saya hanya memperhatikan zona nyaman, pasti saya memilih tetap Provinsi dapil Buleleng. Tapi menurut saya, itu zona nyaman yang saya hindari. Sebagai Pimpinan Partai, saya harus memberi contoh mengembangkan partai ini.

Golkar saat 2019, itu memperoleh suara 386 ribu, dimana itu terdiri dari salah satunya suara dari Pak Geredeg itu 65 ribu, kemudian suara dari Pak Made Wijaya sekitar 45 ribu, kemudian Pak Sudikerta sekitar 40 ribu. Sehingga ada sekitar 150 ribu suara yang kemungkinan hilang karena beliau kan tidak nyalon lagi. Kedua, kalau saya tetap

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.