kabargolkar.com, JAKARTA - Yello Sista (Young Leader Sisterhood) meluncurkan perdana program Sisterhood Talk pada Selasa, 28 April 2020 malam. Tema yang diangkat pada acara ini yaitu "Masa Pandemi, Kartini Milenial Bisa Apa?". Program ini ditayangkan langsung melalui akun instagram @kabargolkar.
Acara bincang-bincang santai ini menghadirkan Keynote Speaker Menteri Pemuda & Olahraga, Abangnda Zainudin Amali. Sementara para pembicara lainnya yaitu, Alia Laksono (Staff Khusus Menteri Pemuda dan Olah Raga), Tania Laena Puteri ( Ketua Yayasan Alexandra Islamic School), Astrid Reiza (Managing Director Of Iconic Corp), Destriana Chantika Dewi (Founder Of House Perempuan).
Dalam acara ini, Vice Chair Of Young Leader Sisterhood (Yellosiste), Amirah Kaca, tampil sebagai pemandu acara. Lindsey Afsari Puteri selaku Founder and Chair Of Young Leader Sisterhood (Yellosista) memberikan Opening Remark di awal acara.
Zainudin Amali mengatakan, hampir semua kegiatan menjadi tertunda di masa pandemi covid-19 ini. Namun, ia mengajak para Kartini Milenial Yello Sista untuk tetap berbagi inspirasi terhadap sesama. Selain itu, ia juga mengungkapkan, masa-masa ini dapat dimanfaatkan Yello Sista untuk merancang berbagai proposal program kegiatan untuk ditawarkan ke berbagai pihak setelah pandemi mereda. Menurutnya, ini akan menjadi kesempatan emas, karena masyarakat tentu membutuhkan berbagai program kegiatan yang dapat memberikan inspirasi, dan juga meningkatkan kemampuan skill mereka.
Di masa pandemi Covid-19 ini, Zainudin Amali mengajak untuk bersama-sama menaati imbauan pemerintah terkait PSBB, senantiasa menjaga jarak (physical distancing) dan selalu menjaga kebersihan, terutama mencuci tangan agar selalu bersih. Dia mengatakan, pandemi covid-19 telah membuat banyak kegiatan tertunda, termasuk Olimpiade dan PON yang rencananya digelar tahun 2020. Zainudin Amali juga mengungkapkan keputusan menunda PON 2020 semata-mata demi menjaga kesehatan dan keselaman para atlet dan masyarakat dari virus mematikan itu. Menurutnya, kesehatan, keselamatan dan jiwa manusia adalah yang paling penting. Menurutnya, kegiatan bisa ditunda, dan digelar kembali setelah situasi normal. Tapi, bila atlet terkena covid-19, tentu akan mengganggu kegiatan atlet itu sendiri, termasuk target prestasi dan kehidupannya.