21 Juni 2021
Pemkab Sumedang Minta Dukungan Menko Luhut Kembangkan Kawasan Butom
  Bambang Soetiono
  10 Juni 2021
  • Share :
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Istimewa

kabargolkar.com, BANDUNG - Pemerintah Kabupaten Sumedang menargetkan pengembangan kawasan Buah Dua-Ujungjaya-Tomo atau Butom bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat di Sumedang bagian Timur. 

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan pihaknya saat ini tengah mengakselerasi pengembangan kawasan Butom agar mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat. Salah satu upaya yang dilakukan pihaknya dengan menemui Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan pekan lalu di Jakarta. 

“Pada Pak Luhut kami sampaikan rencana pengembangan kawasan Butom dan meminta dukungan dari Pemerintah Pusat. Pak Luhut memberikan sejumlah masukan pada kami. Pak Luhut juga sudah menugaskan salah satu deputinya untuk mengawal,” kata Dony saat ditemui Bisnis di Bandung, Selasa (8/6/2021) malam. 

Menurut Dony kawasan Butom diproyeksikan menjadi kawasan yang berkembang agar persoalan kesejahteraan dan ketimpangan ekonomi di Sumedang bagian Timur menemukan solusi. 

“Ekonomi Sumedang itu ada ketimpangan, Sumedang bagian Barat bersatu dengan Bandung Raya sementara di Timur bersisian dengan Majalengka, ketimpangan ini tidak boleh terjadi lagi jika Butom menjadi kawasan pertumbuhan baru,” tuturnya.

Pengembangan Butom selaras dengan rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang tengah mengembangkan kawasan Rebana. Dony menilai Butom bisa lebih dulu maju dibanding kawasan sekitarnya di Rebana. 

Sumedang menyiapkan kawasan peruntukan industri (KPI) Butom bersaing dengan 13 kawasan industri di Metropolitan Rebana. Dony mengatakan untuk Butom pihaknya menawarkan peluang kawasan dan peruntukan yang berbeda. 

KPI Buahdua misalnya, memiliki lahan seluas 4,129 hektare disiapkan ke dalam dua zona industri. Zona tersebut terdiri atas zona industri olahraga dan pariwisata serta zona industri agrobisnis dan pariwisata dengan lahan yang siapkan seluas 1,147 hektar.

Buahdua memiliki jarak tempuh ke Bandara Kertajati sejauh 25 kilometer dan Patimban 63 kilometer, namun hanya 8 kilometer ke ruas tol Cisumdawu dan Cipali. 

“Ini posisinya strategis karena juga dekat dengan kawasan Jatigede dan sejumlah obyek wisata,” ujarnya. 

Lalu Ujungjaya dan Tomo. Dengan lahan sekitar 2,981 hektar, KPI yang meliputi 8 desa ini sudah dirancang lebih komprehensif. Industri yang masuk ke wilayah tersebut akan terbagi dalam industri hulu atau andalan, industri antara dan industri hilir. 

Untuk industri hulu misalnya akan disiapkan kawasan untuk industri bahan bangunan, pangan, kimia farmasi dan kosmetik hingga alat transportasi dan pergudangan. 

Sementara untuk zona industri antara yakni jasa industri, barang modal, industri pengolahan kayu. “Industri hulu kami arahkan pada industri logam dasar dan bahan galian bukan logam. 

Industri hulu agro, industri serat. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan eksisting di wilayah Ujungjaya dan Tomo. Nanti salah satu interchange Tol Cisumdawu ada di Ujungjaya. 

Tomo itu luas yang disiapkan 397 hektar, Ujungjaya 2,584 hektar,” tutur Dony. Menurut Dony dengan kesiapan infrastruktur dan regulasi pihaknya menjamin pelayanan investasi di wilayah tersebut makin dipermudah dengan standar yang baik usai berdirinya Mal Pelayanan Publik (MPP). “Perizinan di kami itu paling lama 5 hari,” katanya.

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.